PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Pemerintah mempercepat pembangunan proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (waste to energy) sebagai langkah strategis mengatasi persoalan darurat sampah nasional. Melalui skema Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), pemerintah menargetkan pembangunan hingga 18 proyek pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) di berbagai kota besar di Indonesia dapat berjalan hingga 2028–2029.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau Zulhas sapaan akrabnya, mengatakan percepatan proyek tersebut dilakukan karena volume sampah perkotaan yang terus meningkat dan mulai mengancam kesehatan lingkungan.
“Berkali-kali kami sampaikan darurat sampah Darurat sampah ya Lalu karena itu ada beberapa cara yang kita akan selesaikan,” katanya dalam konferensi pers usai rapat bersama Danantara dan Kementerian Lingkungan Hidup, di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Kamis (12/3/2026).
Pemerintah pun mendorong pemanfaatan teknologi pengolahan sampah modern agar limbah dapat dikonversi menjadi energi listrik yang bernilai ekonomi.
Menurutnya, program ini menjadi strategi ganda pemerintah, yakni mengurangi timbunan sampah sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional melalui sumber energi alternatif berbasis limbah.
Tahap Pertama Dimulai di Empat Kota
Dalam tahap awal, pemerintah telah menyiapkan empat proyek PSEL yang telah masuk tahap kontrak dan direncanakan mulai pembangunan (groundbreaking) pada Juni 2026. Keempat proyek tersebut berada di Denpasar Raya, Kota Bekasi, Bogor Raya, dan Yogyakarta.
“Kita sudah masuk kategori darurat sampah. Hari ini, sudah ada empat Waste-to-Energy yang diumumkan Danantara yang sudah masuk tahap kontrak, yakni Denpasar Raya, Kota Bekasi, Bogor Raya, dan Yogyakarta. Juni mendatang insyaallah groundbreaking,” ujar Zulhas.
Sebagai informasi, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) mengumumkan mitra terpilih untuk fasilitas Waste-to-Energy (WtE) atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Bekasi dan Denpasar.
Melalui proses pemilihan mitra yang komprehensif dan diikuti berbagai perusahaan internasional berpengalaman, Danantara menetapkan Wangneng Environment Co., Ltd. sebagai operator untuk pembangkit di Bekasi dan Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd. sebagai operator di Denpasar.
Pemerintah sendiri menargetkan sebagian fasilitas PSEL dalam pipeline pembangunan akan siap beroperasi pada 2027.
Kemudian empat fasilitas lain beroperasi pada awal 2028 dan 12 lainnya menyusul pada pertengahan 2028.
“Janji kami akhir 2027 waste to energy sudah ada yang jalan, yang jadi,” kata Zulhas.
Proyek-proyek ini diharapkan mampu mengurangi beban tempat pembuangan akhir (TPA) sekaligus menghasilkan listrik dari sampah perkotaan dan menjadi magnet investasi baru di sektor energi terbarukan.
Selaras dengan Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025, penetapan itu merupakan bagian program WtE/PSEL Danantara yang bertujuan untuk mengatasi permasalahan sampah dengan memperkuat pengelolaan sampah perkotaan, mengurangi ketergantungan pada pembuangan ke TPA, serta mendukung pembangkit energi yang berkelanjutan.
Selain mengurangi beban biaya pengelolaan sampah di TPA yang kian membengkak, hilirisasi sampah menjadi listrik diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja teknis dan mendorong kemandirian energi di daerah.
Untuk mendukung pengembangan teknologi pengolahan sampah, pemerintah juga menggandeng sejumlah lembaga riset dan perguruan tinggi, termasuk Badan Riset dan Inovasi Nasional serta Institut Teknologi Bandung.
“Kita kerjasama dengan BRIN, kemudian dengan Dikti, Menteri Dan juga kampus-kampus termasuk ITB dan lain-lain Kampus yang ada jurusan insinyurnya disitu kita kerjasama Untuk membuat alat-alat penggunaan sampah ini,” ujarnya.
Tahap Kedua: Danantara Siapkan Tender 14 Lokasi
Setelah tahap pertama berjalan, pemerintah akan melanjutkan program ke tahap kedua yang mencakup sekitar 14 proyek tambahan di sejumlah kota besar lainnnya meliputi Surabaya, Medan, Semarang, Tangerang, hingga Jakarta yang menjadi fokus utama.
“Tahap dua kita akan selesaikan kira-kira ada 14 lagi mudah-mudahan. Jakarta itu [menghasilkan] 7 ribu hampir 8 ribu ton setiap hari sampah. Sehingga sudah seperti gedung,” ujarnya.
Proses tender proyek tahap kedua ini akan dikoordinasikan oleh Danantara. Salah satu proyek yang disiapkan dalam tahap kedua adalah pembangunan fasilitas waste to energy di TPST Bantargebang, Bekasi.
Zulhas mengatakan fasilitas PSEL Bantargebang nantinya akan memiliki kapasitas pengolahan sebesar 3.000 ton per hari yang mencakup 2.000 ton per hari sampah baru dan 1.000 ton timbunan sampah lama.
Selain Bantargebang, Danantara juga akan melelang PSEL di Tanjungan dengan luas 8 hektare dan kapasitas 2.000 ton per hari. Nantinya setiap fasilitas diproyeksikan mampu mengolah lebih dari 2.000 ton sampah per hari.
“Nah mudah-mudahan nanti kejadian kemarin [longsor sampah] tidak terulang lagi. Itu menunjukkan kita memang perlu percepat. Kita tidak ingin ada masalah lagi. Kita ingin percepat,” kata Zulhas.
Sebagai informmasi, belum lama ini, gunungan sampah di Bantargebang memicu longsor yang merenggut tujuh korban jiwa.
Timbulan sampah Jakarta sendiri saat ini telah mencapai 9.180,98 ton per hari menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup. Dari volume tersebut, hanya 2.888,81 ton atau setara 31% yang terkelola.8.000 ton setiap harinya.
Pemerintah menargetkan proyek tahap pertama mulai beroperasi pada awal 2028, sementara proyek tahap berikutnya diharapkan menyusul hingga 2029.
Dengan target pembangunan hingga 18 proyek dalam beberapa tahun ke depan, pemerintah berharap sistem pengelolaan sampah di Indonesia dapat bertransformasi menuju model ekonomi sirkular yang lebih modern dan berkelanjutan.




