32.2 C
Jakarta
Sunday, May 17, 2026
spot_img

Menkeu Purbaya: Penempatan Dana SAL Rp300 T di Perbankan Bantu Pertumbuhan 5,61 Persen

PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Menteri Keuangan (Menkeu) RI, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan kebijakan penempatan dana pemerintah melalui Saldo Anggaran Lebih (SAL) di sektor perbankan turut memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,61 persen pada triwulan I-2026.

Pemerintah diketahui menempatkan dana SAL senilai Rp300 triliun di sejumlah bank guna memperkuat likuiditas sistem keuangan dan mendorong penyaluran kredit ke sektor riil. Kebijakan tersebut dinilai mampu meningkatkan suplai uang di sistem perbankan sehingga mendukung aktivitas ekonomi nasional.

“Pertumbuhan ekonomi yang 5,61 persen sebagian didukung dari situ (penempatan SAL), karena suplai uangnya bertambah di sistem dengan dukungan bank sentral juga,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi April 2026 di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (5/5/2026).

Menurut Purbaya, penempatan SAL dilakukan untuk memperkuat fungsi intermediasi perbankan agar bank lebih agresif menyalurkan kredit kepada dunia usaha dan masyarakat. Pemerintah sengaja tidak mengatur secara spesifik sektor penerima kredit karena dinilai perbankan lebih memahami kebutuhan pasar dan profil risiko pembiayaan.

Ia menjelaskan strategi tersebut dilakukan melalui mekanisme pasar atau invisible hand, di mana bank akan terdorong menyalurkan kredit agar dana yang diterima tidak hanya mengendap dan membebani biaya dana (cost of fund).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal I-2026. Angka tersebut menjadi pertumbuhan tertinggi dalam lima tahun terakhir. Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga konstan (ADHK) tercatat Rp3.447,7 triliun dan atas dasar harga berlaku (ADHB) sebesar Rp6.187,2 triliun.

Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menyebut pertumbuhan ekonomi didorong oleh konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, investasi, serta momentum Ramadan dan Idulfitri yang meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat.

“Konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor utama dengan andil 2,94 persen. Peningkatan konsumsi didorong mobilitas masyarakat selama libur nasional dan hari besar keagamaan seperti Nyepi dan Idul Fitri,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah juga memberikan sejumlah stimulus ekonomi seperti diskon transportasi, pencairan tunjangan hari raya (THR) atau gaji ke-14, serta suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI rate yang berada di level 4,75 persen.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

1,459FollowersFollow
7,451FollowersFollow
7,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles