PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan hebat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan menembus level psikologis Rp17.500 per dolar AS pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026. Pelemahan ini menjadi salah satu yang terburuk dalam sejarah pergerakan mata uang Garuda di pasar valuta asing.
Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa (12/5/2026) pukul 12.41 WIB, nilai tukar rupiah mencapai Rp 17.513 per dolar AS atau melemah 98 poin. Tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih berlanjut di tengah meningkatnya tensi geopolitik global dan sentimen domestik.
Kurs dolar terus menguat terhadap rupiah sejak awal pekan ini. Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia menunjukkan mata uang rupiah pada Senin, 11 Mei 2026 tercatat 17.415 per dolar AS. Melemah dibandingkan dengan akhir pekan lalu yang tercatat 17.375 per dolar AS.
Semula, rupiah dibuka level Rp17.489 per dolar AS pada perdagangan Selasa atau melemah 75 poin atau 0,43 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Pelemahan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang kompak tertekan terhadap dolar AS. Yuan China turun 0,01 persen, peso Filipina melemah 0,50 persen, ringgit Malaysia terdepresiasi 0,22 persen, dolar Singapura turun 0,20 persen, yen Jepang melemah 0,22 persen, serta won Korea Selatan anjlok 1 persen.
Di sisi lain, dolar Hong Kong menguat 0,01 persen terhadap dolar AS.
Mata uang utama negara maju juga mayoritas melemah. Euro Eropa turun 0,17 persen, poundsterling Inggris melemah 0,18 persen, dolar Australia terkoreksi 0,24 persen, dolar Kanada turun 0,10 persen, serta franc Swiss melemah 0,19 persen terhadap dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuabi pergerakan kurs dipengaruhi faktor eksternal dan domestik.
Dari faktor eksternal, rupiah melemah signifikan dipengaruhi konflik Timur Tengah yang kembali memanas dipicu oleh sikap keras Presiden AS Donald Trump yang menolak proposal perdamaian terbaru dari Iran yang dimediasi Pakistan dan Qatar.
“Penolakan ini membuat ketegangan baru, karena secara tak terduga serangan-serangan kecil masih terjadi di Selat Hormuz,” ucap Ibrahim lewat keterangannya, Selasa, 12 Mei 2026.
Artinya, kata dia, Selat Hormuz masih memanas, meski muncul pernyataan dari para pejabat tinggi negara yang berkonflik bahwa perang telah usai. Secara terpisah, Uni Emirat Arab juga menyerang kilang minyak di Pulau Lavan, Iran.
Kenaikan harga minyak global saat ini juga memengaruhi pergerakan nilai tukar.
“Ini yang membuat indeks dolar AS kembali lagi mengalami penguatan yang cukup signifikan sehingga berdampak terhadap kenaikan harga minyak mentah terutama dalam Brent. Kenaikan dari Brent ini berdampak terhadap transportasi dengan biaya yang cukup mahal,” tutur Ibrahim
Ibrahim menambahkan, pasar kini menantikan kunjungan Trump ke China untuk bertemu Presiden Xi Jinping di Beijing akhir pekan ini guna membahas perdagangan hingga konflik Iran.
Selain itu, investor mencermati rilis data inflasi AS bulan April serta data penjualan ritel yang akan dirilis pekan ini.
Kemudian dari faktor internal, dia melihat bahwa pertumbuhan ekonomi nasional kuartal I 2026 yang mencapai 5,61 persen (yoy) tidak serta-merta bisa membuat ekonomi membaik dan membuat kurs Rupiah mengalami penguatan.
“Pembentukan dari pertumbuhan ekonomi kuartal I itu adalah dari konsumsi masyarakat kemudian dan belanja negara. Itu yang membuat sehingga tidak berdampak terhadap investasi, walaupun investasi mengalami kenaikan persentasenya sangat kecil sekali,” ungkap Ibrahim.
Ia menilai bahwa kuatnya faktor eksternal dari sisi geopolitik dan antisipasi kebijakan suku bunga Federal Reserve masih menekan posisi rupiah.
Terakhir, Ibrahim juga melihat para investor masih wait and see atau menunggu pengumuman lanjutan dari MSCI terkait transparansi bursa saham di Indonesia.
“Pasar sedang menunggu release data dari MSCI tentang keputusan MSCI yang menurunkan peringkat saham di Indonesia, nah ini menunggu dalam tiga hari ini yang membuat Rupiah kembali mengalami pelemahan,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah melemah karena harapan damai AS-Iran sedang meredup.
“Rupiah diperkirakan akan masih berpotensi melemah terhadap dolar AS di tengah meredupnya harapan damai AS-Iran serta harga minyak mentah dunia yang masih tinggi,” ujarnya.
Selain itu, harga minyak mentah dunia yang masih tinggi turut menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Sentimen negatif juga datang dari pengumuman MSCI yang diperkirakan tidak akan memberikan kabar positif bagi IHSG dan berpotensi ikut menekan rupiah.
“Pengumuman MSCI hari ini diperkirakan tidak akan memberikan berita baik pada IHSG, dan akan ikut menekan rupiah. Investor juga menantikan data penjualan ritel Indonesia yang akan dirilis siang ini,” ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Melihat sentimen domestik, investor disebut menantikan data penjualan ritel Indonesia pada Maret 2026 yang akan dirilis siang ini.
“Penjualan ritel diperkirakan sedikit lebih tinggi, (yaitu) 6,8 persen, dibandingkan Februari 6,5 persen,” ungkap Lukman.
Pengumuman dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) juga diprediksi takkan memberikan baik pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan akan turut menekan rupiah.
“Akan ada saham-saham yang didepak, dan beberapa saham kapitalisasi besar yang di downgrade,” ujar dia.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, Ia memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.350 hingga Rp17.500 per dolar AS pada perdagangan hari ini.



