PETISI BRAWIJAYA MEDIA JAKARTA, — Untuk menjalin tali silaturahmi dan meningkatkan rasa persaudaraan, perkumpulan Sibirubiru Jakarta dan sekitarnya mengadakan olahraga bersama dan menari bersama di Pantai Ancol Jakarta Utara Sabtu (18/07/26).
Dengan menampilkan musik khas Karo para hadirin menari bersama dan melakukan senam.
Setelah melakukan senam olahraga, secara resmi Ketua Perkumpulan Sibirubiru Jakarta sekitarnya Konimbar Tarigan yang biasa dipanggil Elen didampingi Sekretaris Jenari Tarigan memimpin melakukan menari bersama dengan lagu Simalungun Rakyat.
Setelah itu, dengan gayanya sebagai guru menari yang sangat lucu, Elen Tarigan dan Jenari Tarigan memberi kesempatan menari kepada istri atau kaum ibu bersama anak remaja dan anak gadis. Hal ini dilakukan untuk memberi kepuasan kepada kaum ibu yang sangat senang menari.
“Kita harus beri kepuasan menari bagi ibu-ibu kita yang terlihat sangat antusias menari. Jika kita tidak berikan kesempatan menari sampai puas, maka pulangpun nanti kita kerumah, bisa tidak dapat nasi mateng buat makan,” teriak canda penasehat Mesin Sembiring salah satu pendiri Perkumpulan Sibirubiru.
Sementara itu, tokoh adat Karo Andreas Sembiring Meliala,SH memberikan penceramahan adat, dimana sebelumnya Andreas dan istri mendapatkan pakaian khas adat Karo berupa Kain ulos Beka Buluh dari Perkumpulan Sibirubiru, sebagai bentuk penghargaan karena baru menikahkan anaknya si Jundri secara adat Karo di Deli Tua Medan, tempat tinggal pihak perempuan Beru Samura.
Dalam ceramah adat Karo, Andreas Sembiring Meliala menjelaskan bagaimana cara melestarikan adat budaya Karo di tanah perantauan ini.
Secara mendetail, tokoh adat Karo ini menjelaskan bagaimana sikap seorang anak perempuan dan anak laki-laki jika sudah melakukan pemberkatan nikah baik secara Kristen maupun secara Islam.
“Hal ini perlu dilakukan dan selalu diingatkan kepada generasi muda terutama yang sudah lama merantau meninggalkan kampungnya,” jelas Andreas Sembiring yang sudah mendapat gelar Emeritus (penghargaan) dari gereja GBKP Cijantung karena sudah melakukan pelayanan (anggota majelis gereja) selama 20 tahun.
Ditambahkan Andreas yang sering dipanggil Bp Jundri, Diskusi Adat dan kajian terhadap budaya dan adat-istiadat Karo sangat perlu dilestarikan dan diperkenalkan kepada masyarakat Indonesia dan khususnya kepada masyarakat Karo yang ada diperantauan yang membahas tentang ‘Nereh Empo ras sangkep enggeluhna’ (adat perkawinan dan kerabat kerjanya) yang terus berkembang sesuai dengan zamannya sebagai salah satu budaya pemersatu untuk terciptanya persaudaraan.
“Karena seiring majunya perkembangan zaman, semakin banyak anak muda yang semakin jauh dar adat-istiadat Karo,” jelas bp Jundri.
Sementara itu dalam sambutannya Ketua Perkumpulan Sibirubiru Elen Tarigan mengucapkan banyak terima kasih atas kedatangan serta partisipasi anggota untuk menyukseskan acara yang diadakan olahraga bersama untuk menjalin tali silaturahmi dan mempererat rasa persaudaraan sesama perantau yang berasal dari Kecamatan Sibirubiru Provinsi Sumatera Utara di Jakarta sekitarnya.
Secara khusus juga Elen Tarigan mengucapkan banyak terima kasih kepada Bendahara Ulung Sitepu, walaupun tidak bisa hadir karena sesuatu hal, tetapi masih bisa memfasilitasi sehingga acara kebersamaan di Ancol ini bisa terwujud. (Rus)



