29.1 C
Jakarta
Tuesday, August 11, 2026
spot_img

Ekspor Makanan dan Minuman Olahan RI Masih Kalah dari Thailand, Vietnam-Singapura, Kemendag Siapkan Strategi

PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Indonesia memiliki industri makanan dan minuman olahan yang besar dengan dukungan bahan baku melimpah serta pasar domestik yang kuat. Namun, kekuatan tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam posisi Indonesia di pasar ekspor global.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengungkapkan nilai ekspor makanan olahan Indonesia pada 2025 masih berada di bawah sejumlah negara ASEAN. Indonesia menempati posisi keempat dengan nilai ekspor sebesar USD 6,25 miliar, di bawah Thailand, Vietnam, dan Singapura.

“Kita saat ini berada di bawahnya Thailand, jadi kalau Thailand itu US$17,69 miliar, Vietnam di angka US$8,89 miliar, dan juga Singapura di angka US$6,5 miliar,” kata Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri, dalam acara Indonesia Food and Beverage (F&B) Trade Promotion Forum di Kantor Kemendag, Jakarta Pusat, Selasa (11/8/2026).

Meski masih berada di posisi keempat, Roro mengapresiasi capaian ekspor makanan olahan Indonesia yang dinilai cukup strategis di kawasan ASEAN.

“Di satu sisi kita juga harus apresiasi terhadap diri sendiri karena kita berada di posisi yang cukup strategis kalau bisa dibilang kita top five lah kalau berbicara mengenai ASEAN,” ujarnya.

Roro menilai capaian negara-negara tetangga tersebut perlu menjadi pembelajaran bagi Indonesia untuk meningkatkan daya saing industri F&B. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar untuk meningkatkan ekspor produk makanan olahan karena didukung pasar domestik yang besar dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai sekitar 290 juta jiwa.

“Kita harus sering melihat gitu ya, bagaimana negara-negara tetangga kita juga mengedepankan sektor F&B, dengan niat untuk kemudian belajar juga, dan dengan niat untuk mencari tahu apa saja ataupun langkah-langkah apa saja yang perlu kita tempuh untuk bisa semakin maju,” ujarnya.

Roro pun mendorong pelaku usaha tidak hanya mengandalkan pasar dalam negeri. Peningkatan kualitas produk juga diperlukan agar produk makanan olahan Indonesia mampu bersaing dan menembus pasar internasional.

“Jadi pasar dalam negeri ini penting sekali tapi di sisi lain juga bagaimana quality products ini semakin mendunia maka pemerintah hadir sebagai jembatan, we are a bridge for you dan harapannya kita bisa menjadi jembatan yang baik untuk para pelaku usaha,” kata Roro.

Roro menekankan peningkatan kualitas menjadi salah satu pekerjaan rumah bagi pelaku usaha mamin Indonesia yang ingin memperluas pasar ekspor. Pasalnya, setiap negara memiliki standar produk yang harus dipenuhi.

“Kalau kita berbicara mengenai konotasinya ekspor, yaitu adalah bagaimana kita bisa memperkuat kualitas dari produk F&B yang dapat kita tawarkan, untuk bisa penetrasi ke pasar internasional. Karena setiap negara kita tahu punya standarnya masing-masing, ada sebagian negara yang mungkin cukup rumit gitu ya standar-standar yang perlu kita penuhi, tapi saya yakin dengan kegigihan dan semangat Bapak-Ibu sekalian kita bisa merealisasikannya bersama,” ucap Roro.

Roro menyebut pasar F&B internasional memiliki potensi yang besar. Dia ingin Indonesia bisa mengedepankan sektor F&B seperti yang dilakukan oleh negara-negara tetangga, meskipun sudah masuk dalam lima besar pengekspor.

“Ada hal-hal tentunya yang perlu kita persiapkan bersama dan semangat kolaborasi dan gotong royong itulah yang dibutuhkan pemerintah dalam hal ini tentunya berupaya untuk menciptakan sebuah ekosistem. Harapan kami pemerintah bisa memfasilitasi seluruh pelaku usaha khususnya di sektor F&B ini untuk bisa penetrasi ke market internasional dengan jaringan yang kita miliki,” ujarnya.

Indonesia saat ini memiliki perwakilan di 33 negara dalam bentuk Atase Perdagangan maupun Indonesian Trade Promotion Center. Dalam hal ini, sambung dia, Kemendag secara rutin mendorong kegiatan business pitching untuk mempertemukan produk Indonesia dengan calon pembeli di pasar global.

“Kita ada di lebih dari 30 negara 33 negara dan ini adalah sebuah jaringan yang kita akan dengan sangat happy untuk bisa sharing informasi-informasi tersebut karena tugas mereka adalah juga untuk mendapatkan buyer-buyer yang cocok dengan produk-produk yang ingin sekali kita kirim ke luar negeri,” ujarnya.

Selain itu, Kemendag juga menargetkan business pitchingdapat berlanjut menjadi business matchinghingga menghasilkan transaksi. Setelah terjadi business matching, pelaku usaha dapat masuk ke tahap negosiasi harga hingga menghasilkan nota kesepahaman (MoU) atau perjanjian yang berujung pada transaksi perdagangan.

Disisi lain, Indonesia juga memperluas penerapan aturan jaminan produk halal untuk makanan dan minuman. Kondisi ini mendorong eksportir Thailand meninjau kembali produk serta sertifikasi mereka sebelum pemberlakuan aturan yang lebih luas pada 17 Oktober.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

1,459FollowersFollow
7,451FollowersFollow
7,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles