33 C
Jakarta
Friday, August 28, 2026
spot_img

Viral! Matahari Berubah Merah Menyala di Langit Kalimantan, Benarkah karena Kebakaran Hutan?

PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Pemandangan tak biasa muncul di langit Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (20/8/2026) sore. Kemunculan matahari merah tersebut terjadi ketika sejumlah wilayah Kalimantan Tengah tengah menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Matahari terlihat berwarna merah pekat menyerupai bola api yang menggantung rendah di balik langit kelabu dan kabut asap.

Fenomena tersebut sontak menarik perhatian warga dan kemudian viral di media sosial setelah sejumlah foto dan video penampakan matahari merah dibagikan. Warna merah yang sangat mencolok membuat fenomena itu tampak berbeda dari warna matahari pada kondisi normal.

Namun, apakah matahari benar-benar berubah warna? Atau fenomena tersebut merupakan dampak dari asap karhutla?

BMKG Ungkap Penyebab Matahari Tampak Merah

Juru bicara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Chandra, menjelaskan bahwa warna merah pada matahari berkaitan dengan keberadaan partikel asap di atmosfer akibat karhutla.

Menurutnya, citra sebaran asap pada Kamis sore menunjukkan sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah tertutup asap. Kondisi tersebut membuat cahaya matahari harus melewati lapisan atmosfer yang mengandung banyak partikel sebelum akhirnya mencapai mata pengamat.

“Benar, warna matahari bisa berubah dipengaruhi dari kabut asap karhutla yang sedang terjadi di wilayah Kalimantan Tengah,” kata Chandra, dikutip pada Senin, (24/8/2026).

Ia menjelaskan, ketika cahaya matahari melewati atmosfer yang dipenuhi partikel, sebagian spektrum cahaya mengalami hamburan.

Warna dengan panjang gelombang tertentu lebih mudah tersebar, sementara warna dengan panjang gelombang lebih panjang seperti merah relatif lebih banyak diteruskan hingga mencapai mata manusia.

Efek tersebut menjadi semakin kuat ketika posisi matahari sudah rendah menjelang sore atau matahari terbenam. Pada kondisi demikian, cahaya menempuh jalur atmosfer yang lebih panjang sehingga interaksi dengan partikel di udara menjadi semakin besar.

Fenomena serupa juga dapat muncul ketika terdapat kabut, debu, atau aerosol dalam jumlah tinggi di udara.

Bagi warga Palangka Raya, fenomena matahari merah tersebut bukan sekadar fenomena langit yang menarik untuk diabadikan. Warna merah pada matahari sekaligus menjadi gambaran kondisi udara yang tengah dihadapi masyarakat di tengah meningkatnya aktivitas karhutla.

Selain membakar lahan dan mengancam ekosistem, kebakaran menghasilkan asap dan partikulat yang dapat menurunkan kualitas udara, mengurangi jarak pandang, serta mengganggu aktivitas masyarakat sehari-hari.

“Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap dampak asap, terutama ketika kualitas udara menurun. Penggunaan masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika asap semakin pekat menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan,” kata Chandra.

Asap tebal selama beberapa hari tersebut juga telah mengganggu operasi penerbangan, khususnya di sekitar Jabiren, Tanjung Taruna, dan kawasan Taman Nasional Sebangau, karena mengurangi jarak pandang pilot terhadap target maupun rute penerbangan.

Data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendeteksi 1.842 titik panas (hotspot) di lima wilayah Kalimantan; Kalimantan Tengah mencatat jumlah tertinggi sebanyak 976 titik panas, diikuti oleh Kalimantan Barat dengan 489 titik panas.

Menurut BNPB, meski telah banyak titik api yang dipadamkan, masih terdapat kebakaran hutan dan lahan di beberapa wilayah. Saat ini, tak hanya Kalimantan, karhutla juga terjadi di Sumatera Selatan, Riau, Jambi, Lampung, Papua Selatan, Maluku Utara dan Jawa Timur.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

1,459FollowersFollow
7,451FollowersFollow
7,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles