24.4 C
Jakarta
Sunday, February 1, 2026
spot_img

Jokowi soal Polemik Utang Whoosh: “Kereta Cepat Whoosh Bukan untuk Cari Laba, tapi Investasi Sosial”

PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Mantan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, menegaskan bahwa pembangunan Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh bukanlah proyek yang berorientasi pada keuntungan finansial, melainkan sebuah investasi sosial yang bertujuan mengatasi kemacetan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Pernyataan ini disampaikan Jokowi saat ditemui di kawasan Mangkubumen, Banjarsari, Kota Solo, pada Senin (27/10/2025), menyusul polemik publik terkait beban utang proyek Whoosh yang disebut mencapai lebih dari Rp118 triliun.

Jokowi menjelaskan bahwa ide pembangunan Whoosh berangkat dari persoalan kemacetan parah yang telah melanda wilayah Jabodetabek dan Bandung selama lebih dari 20 hingga 40 tahun.

Ia menyebut bahwa kerugian ekonomi akibat kemacetan di Jakarta saja mencapai sekitar Rp65 triliun per tahun, dan jika digabungkan dengan wilayah Bandung dan sekitarnya, angkanya bisa melebihi Rp100 triliun.

“Kalau dihitung, kerugian negara akibat kemacetan itu sangat besar. Maka kita bangun moda transportasi massal seperti KRL, MRT, LRT, kereta bandara, dan Whoosh,” ujar Jokowi.

Jokowi menekankan bahwa transportasi massal seperti Whoosh adalah bentuk layanan publik, bukan instrumen bisnis semata.

Ia menyebut bahwa proyek ini harus dilihat sebagai upaya jangka panjang untuk mendorong peralihan dari kendaraan pribadi ke transportasi umum yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

“Transportasi massal itu layanan publik. Jangan hanya dilihat dari sisi laba. Jadi, transportasi umum tidak diukur dari keuntungan finansial, tetapi dari keuntungan sosial,” tegasnya.

Jokowi menambahkan, keuntungan sosial tersebut mencakup penurunan emisi karbon, peningkatan produktivitas masyarakat, pengurangan polusi, dan efisiensi waktu tempuh.

“Di situlah keuntungan sosial dari pembangunan transportasi massal. Jadi, kalau ada subsidi, itu adalah investasi, bukan kerugian seperti MRT,” ujarnya.

Jokowi mencontohkan MRT Jakarta yang mendapat subsidi dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sekitar Rp 400 miliar per tahun untuk rute Lebak Bulus–Bundaran HI.

“Jika seluruh jalur MRT selesai dibangun, diperkirakan subsidi bisa mencapai Rp 4,5 triliun per tahun,” jelasnya.

Ia menilai, mengubah kebiasaan masyarakat dari kendaraan pribadi ke transportasi umum bukan hal mudah.

“Memindahkan masyarakat dari mobil pribadi dan sepeda motor ke transportasi umum tidak mudah. Mengubah karakter itu sulit,” tambahnya.

Meski masih dalam proses, Jokowi menilai dampak positif transportasi massal mulai terasa.

“MRT Jakarta, misalnya, telah mengangkut sekitar 171 juta penumpang sejak diluncurkan. Sementara Kereta Cepat Whoosh telah melayani lebih dari 12 juta penumpang,” ungkapnya.

Ia mengajak masyarakat untuk bersyukur karena sudah mulai ada pergeseran perilaku menuju penggunaan transportasi umum.

“Masyarakat patut bersyukur karena sudah ada pergerakan untuk berpindah dari kendaraan pribadi. Ini proses bertahap, tidak bisa langsung,” kata Jokowi.

Selain keuntungan sosial, Jokowi menilai proyek Whoosh memiliki multiplier effect ekonomi yang besar. Kehadiran stasiun dan koridor baru menumbuhkan titik-titik ekonomi baru, meningkatkan kegiatan UMKM, wisata, hingga nilai properti.

Sebagai pembanding, Jokowi menyebut bahwa transportasi massal di negara maju juga tidak mengandalkan keuntungan finansial. Ia mencontohkan di Korea, China, Jepang, bahkan Eropa yang juga memberikan subsidi.

“Di Korea, China, Jepang, bahkan di Eropa seperti Metro Paris dan London Underground, subsidi bisa mencapai 50 persen. Jadi ini hal yang wajar,” katanya.

Ia menegaskan bahwa perhitungan kerugian dalam proyek Whoosh sudah diprediksi sejak awal. Jokowi optimistis dalam 5–6 tahun mendatang, seiring meningkatnya jumlah penumpang dan peralihan dari kendaraan pribadi, kinerja finansial proyek akan membaik.

“Tahun pertama pasti belum ideal, tapi kalau setiap tahun jumlah penumpang naik, kerugiannya akan makin kecil, bahkan EBITDA-nya bisa positif,” tutur Jokowi.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

1,459FollowersFollow
7,451FollowersFollow
7,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles