24.4 C
Jakarta
Sunday, February 1, 2026
spot_img

Ribuan Warga Toba Gelar Aksi di Kantor Gubernur Sumut, Desak Gubernur  Bobby Nasution Tutup PT Toba Pulp Lestari

PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Ribuan warga dari berbagai daerah di Sumatera Utara menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Sumatera Utara, pada Senin (10/11/2025), menuntut penutupan PT Toba Pulp Lestari (TPL). Aksi ini berlangsung bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan, sebagai simbol perjuangan masyarakat melawan kerusakan lingkungan yang mereka tuding dilakukan oleh perusahaan tersebut.

Tuntutan Masyarakat: Hentikan Perusakan Alam

Massa aksi berasal dari Kabupaten Toba, Tapanuli Selatan, Humbang Hasundutan, dan sekitarnya, termasuk para tokoh adat, pemuka agama yang terdiri dari pendeta, ustaz, pastor, lalu ada mahasiswa, dan aktivis lingkungan.

“Gerakan hari ini bukan hanya orang Kristen, tapi kesadaran kolektif korban yang dilakukan pihak TPL,” teriak seorang orator di depan Kantor Gubernur Sumut.

Sebelum menyampaikan tuntutan, massa membuka aksi dengan doa dan melakukan hening cipta untuk mengenang jasa pahlawan, termasuk tokoh adat Sumut yang berjuang untuk tanah adat di Tano Batak.

Dalam aksi ini, para demonstran membawa berbagai alat peraga, seperti gondang Batak, Ulos, serta spanduk dan poster yang berisi tuntutan, yang memuat pesan-pesan keras, di antaranya:

“Selamatkan Tanah Batak, Lestarikan Alam”

“Kami butuh perhatian. Namanya PT Toba Pulp Lestari (TPL) kerjaannya merusak Alam (cuaks). Demi keutuhan Ciptaan Tuhan, Tutup TPL.”

Mereka menilai PT TPL telah merusak ekosistem hutan adat dan menyebabkan konflik agraria berkepanjangan.

Direktur Program Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM), Rocky Pasaribu, menegaskan bahwa mereka ingin memastikan Gubernur menutup PT TPL.

“Kita ingin memastikan Gubernur menutup TPL. Sampai gubernur datang menjumpai kita,” kata Rocky Pasaribu dari atas mobil komando.

Menurutnya masyarakat sudah terlalu lama menjadi korban eksploitasi hutan oleh perusahaan tersebut.

Ia menambahkan bahwa gerakan ini merupakan aksi kolektif dari warga yang telah menderita akibat intimidasi yang dilakukan oleh perusahaan PT TPL.

“Kami datang dari jauh, menuntut keadilan. Hutan kami rusak, tanah kami diambil, dan suara kami tak didengar,” ujar salah satu massa.

Massa aksi juga meminta Gubernur Sumut Bobby Nasution untuk menjumpai massa aksi.

“Bobby mana Bobby, supaya tahu Bobby kalau Rakyat Toba sudah menderita,” teriak massa aksi lainnya.

Hingga kini Bobby terlihat belum menemui massa aksi meski mereka telah menunggu sejak pagi.

Koordinator aksi menyatakan akan masuk ke dalam kantor gubernur jika tidak ada tanggapan langsung.

Hingga siang hari, belum ada pernyataan resmi dari pihak Pemprov Sumut terkait tuntutan tersebut.

Sebagai informasi, PT Toba Pulp Lestari merupakan perusahaan penghasil bubur kertas yang telah lama beroperasi di kawasan hutan Sumatera Utara. Perusahaan ini kerap dituding melakukan perambahan hutan adat dan memicu konflik dengan masyarakat lokal.

Sejumlah laporan menyebutkan bahwa aktivitas perusahaan berdampak pada kerusakan lingkungan, pencemaran air, dan hilangnya ruang hidup masyarakat adat.

Para demonstran juga menyerukan agar Presiden RI dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan turun tangan menyelesaikan konflik ini.

Mereka meminta audit menyeluruh terhadap izin dan operasional PT TPL serta pemulihan wilayah adat yang terdampak.

Aksi ini menunjukkan eskalasi ketegangan antara masyarakat adat dan korporasi, serta menjadi ujian bagi kepemimpinan Bobby Nasution dalam merespons isu lingkungan dan hak masyarakat lokal.

 

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

1,459FollowersFollow
7,451FollowersFollow
7,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles