33.7 C
Jakarta
Monday, March 16, 2026
spot_img

55 Paus Pilot Terdampar di Rote Ndao, 21 Mati, 34 Berhasil Diselamatkan

PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Puluhan ekor paus pilot terdampar di Pantai Mbadokai, Desa Deranitan, Kecamatan Rote Barat Daya, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, pada Senin (9/3/2026) malam hingga Selasa (10/3/2026). Sebanyak 21 ekor paus dilaporkan mati dan 34 ekor lainnya berhasil diselamatkan.

Peristiwa bermula ketika warga Desa Deranitan yang berada di sekitar pantai melihat sekumpulan hewan laut besar bergerak tidak normal di perairan dangkal. Awalnya warga mengira hewan tersebut adalah lumba-lumba.

Namun setelah diamati lebih dekat, ternyata hewan tersebut adalah paus jenis paus pilot yang terjebak di perairan dangkal dekat pantai. Warga kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada aparat desa dan pihak berwenang.

Tidak lama kemudian, tim dari Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kupang bersama aparat pemerintah daerah dan masyarakat setempat datang ke lokasi untuk melakukan upaya penyelamatan.

Tim gabungan segera berupaya mengarahkan paus yang masih hidup menuju perairan yang lebih dalam agar dapat kembali ke laut lepas.

Menurut hasil identifikasi tim, paus yang terdampar merupakan paus pilot sirip pendek (Short-finned Pilot Whale / Globicephala macrorhynchus), salah satu jenis mamalia laut yang termasuk satwa dilindungi di Indonesia.

Berdasarkan hasil pendataan tim konservasi, terdapat 55 ekor paus pilot yang terdampar di kawasan pantai tersebut.

“Dari jumlah tersebut 34 ekor paus berhasil diselamatkan dan dikembalikan ke laut sedangkan 21 ekor paus ditemukan mati karena kondisinya sudah sangat lemah,” ujar Kepala Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasioal (BKKPN) Kupang Imam Fauzi di Kupang, Rabu, (11/3/2026).

Dia menjelaskan dari 21 ekor yang ditemukan mati di pesisir pantai tersebut terdiri dari delapan ekor jantan dan 13 betina. Kemudian dari dari 21 ekor individu yang mati, terdiri dari 4 ekor anakan dan 17 ekor dewasa.

Selain itu, tim di lapangan juga melakukan pengukuran terhadap bangkai paus. Hasilnya, paus terkecil memiliki panjang tubuh sekitar 2,4 meter, sedangkan yang terbesar mencapai 5,1 meter.

Untuk penanganan bangkai paus yang mati, tim berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Rote Ndao guna menyediakan alat berat.

Dinas PUPR Kabupaten Rote Ndao kemudian mengirimkan satu unit ekskavator ke lokasi untuk membantu proses penguburan bangkai paus secara aman guna mencegah dampak lingkungan. Proses penguburan dilakukan hingga Selasa malam sekitar pukul 19.30 WITA.

Selama proses tersebut, tim juga mengimbau masyarakat agar tidak mengambil ataupun mengonsumsi bagian tubuh paus karena mamalia laut tersebut merupakan satwa yang dilindungi.

Menurut Imam, penyebab paus terdampar bisa jadi lantaran terbawa arus atau terjebak. Paus yang bergerak secara bergerombol sangat tergantung pada pemimpin koloni. Jika pemimpinnya terdampar, yang lain akan ikutan.

Namun hingga saat ini, penyebab pasti terdamparnya puluhan paus pilot tersebut masih dalam tahap penyelidikan oleh para ahli.

Beberapa sumber mengatakan bahwa faktor dugaan yang menyebabkan kejadian tersebut, di antaranya gangguan navigasi paus saat menggunakan sistem echolocation untuk menentukan arah, Perubahan arus laut dan kondisi lingkungan dan Paus mengikuti sumber makanan hingga mendekati perairan dangkal.

Pihak BKKPN Kupang masih terus melakukan pemantauan di lapangan untuk mengantisipasi kemungkinan adanya paus lain yang kembali terdampar.

Lebih lanjut Imam juga menyampaikan terimakasih kepada petugas bersama warga yang telah berjibaku menghalau paus yang berada di perairan dangkal agar bergerak ke tengah laut. Sepanjang malam,

”Terima kasih untuk kerja keras semua petugas dan warga setempat yang berhasil menyelamatkan puluhan ekor paus. Kami memberi apresiasi atas kerja sama di lapangan,” ujar Imam.

Kepala Polsek Rote Barat Daya Inspektur Dua Subur Gunawan menjelaskan, proses penyelamatan berlangsung cukup lama. Paus harus diarahkan secara perlahan agar tidak kembali ke perairan dangkal.

Dengan menggunakan perahu nelayan dan peralatan seadanya, aparat gabungan bersama masyarakat berupaya menggiring kawanan paus menuju laut lepas. Mereka mengawal hingga memastikan paus sudah aman.

Menurut dia, upaya tersebut memerlukan kesabaran dan koordinasi yang baik antara aparat dan masyarakat.

”Hampir tiga jam proses penyelamatan dengan cara menggiring kawanan paus ini hingga mencapai titik aman di perairan yang lebih dalam,” jelasnya.

Kepala Polres Rote Ndao Ajun Komisaris Besar Mardiono juga mengapresiasi peran aktif masyarakat, khususnya para nelayan, yang turut membantu upaya penyelamatan satwa laut dilindungi tersebut. Inilah penyelamatan satwa terbanyak yang pernah dilakukannya di daerah itu.

”Kami berterima kasih kepada para nelayan yang telah membantu proses penyelamatan kawanan paus hari ini. Mereka memiliki kepedulian terhadap paus pilot yang merupakan satwa dilindungi sehingga berpartisipasi aktif dalam upaya penyelamatan,” ujarnya.

Peristiwa terdamparnya puluhan paus di Pantai Mbadokai menjadi pengingat pentingnya bagi kita semua agar menjaga ekosistem laut di wilayah Nusa Tenggara Timur yang merupakan jalur migrasi berbagai jenis mamalia laut.

Meski demikian, kejadian ini tetap menjadi perhatian serius bagi para peneliti dan pemerhati lingkungan untuk memahami penyebabnya serta mencegah kejadian serupa di masa mendatang.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

1,459FollowersFollow
7,451FollowersFollow
7,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles