25.1 C
Jakarta
Monday, February 2, 2026
spot_img

Angka Depresi Warga Jakarta Lebih Tinggi dari Nasional, Pemprov DKI: “Tekanan Hidup di Ibu Kota Memang Nyata”

PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Data terbaru dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengungkapkan bahwa angka depresi di DKI Jakarta mencapai 1,5 persen dari total penduduk berusia di atas 15 tahun. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang berada di angka 1,4 persen. Temuan ini memicu perhatian publik dan mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk memberikan klarifikasi.

Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Bidang Komunikasi Sosial, Chico Hakim, tidak menampik data tersebut. Ia menyatakan bahwa tingginya angka depresi di Jakarta merupakan cerminan dari beratnya tekanan hidup di ibu kota.

“Angka ini menjadi pengingat bagi kami bahwa tekanan kehidupan di ibu kota memang nyata, dan kami terus bekerja keras untuk menekan angka tersebut,” ujar Chico, kepada wartawan, Senin (24/11/2025).

Pemprov DKI menyebut bahwa gaya hidup serba cepat, persaingan kerja yang ketat, kemacetan, dan tekanan sosial menjadi faktor utama yang memicu gangguan kesehatan mental di kalangan warga Jakarta.

Langkah Pemprov: Perkuat Layanan Psikologi

Sebagai respons, Pemprov DKI telah memperkuat layanan kesehatan mental melalui berbagai inisiatif, antara lain:

  • Kanal JakCare: Layanan konsultasi psikologi daring yang dapat diakses masyarakat secara gratis 24 jam via telepon (0800-150-0119).
  • Aplikasi JAKI: Menyediakan fitur skrining kesehatan mental dan informasi layanan psikologis.
  • Skrining di Puskesmas dan kesehatan jiwa gratis melalui Program cek kesehatan gratis (CKG) di puskesmas dan posyandu: Pemeriksaan dini dilakukan untuk mendeteksi gejala gangguan mental sejak awal dan sudah menjangkau ratusan ribu warga.
  • Kemudian, Dinas Kesehatan DKI Jakarta juga melakukan edukasi dan workshop kesehatan mental di sekolah-sekolah dan komunitas, serta penguatan tenaga psikolog klinis di puskesmas kecamatan.

Chico menambahkan bahwa Pemprov juga berupaya mengurangi stigma terhadap isu kesehatan jiwa dan mendorong masyarakat untuk lebih terbuka dalam mencari bantuan profesional.

“Kami terus tingkatkan akses dan kurangi stigma, karena Jakarta yang bahagia itu bukan cuma slogan, tapi juga ketika setiap warganya merasa didengar dan didukung,” urai Chico.

Wagub DKI: Jakarta Tetap Kota Bahagia

Sementara itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno memberikan pandangan berbeda. Ia menilai bahwa meskipun angka depresi tinggi, Jakarta tetap bisa disebut sebagai kota bahagia.

“Ya, tapi Jakarta kota bahagia, lho,” ujar Rano di Balai Kota, Sabtu (22/11).

Ia menekankan bahwa kebahagiaan warga tidak hanya diukur dari angka kesehatan mental, tetapi juga dari kemajuan fasilitas publik dan ruang interaksi sosial.

Namun, Rano juga mengakui perlunya survei lanjutan untuk memahami lebih dalam distribusi dan penyebab depresi di berbagai wilayah Jakarta.

Tantangan Nasional: Kesehatan Mental Jadi Prioritas

Menurut Kemenkes, masalah kesehatan mental kini menempati peringkat kedua dari 10 penyakit tertinggi di Indonesia.

Selain Jakarta, provinsi lain seperti Jawa Barat bahkan mencatat prevalensi gangguan jiwa hingga 4,4% melebihi rata-rata nasional sebesar 2%. Di Jakarta, prevalensi masalah kesehatan jiwa berada di angka 2,2% berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023.

Temuan ini disampaikan dalam sebuah seminar daring pada Jumat, (21/11/2025) yang membahas situasi kesehatan jiwa di masyarakat.

Kemenkes juga menyoroti minimnya akses pengobatan bagi penderita gangguan mental. Hanya sebagian kecil individu dengan kecemasan atau depresi yang mencari pertolongan profesional.

Ketua Tim Kerja Deteksi Dini dan Pencegahan Masalah Kesehatan Jiwa dan NAPZA Kemenkes, Yunita Arihandayani, menyebut bahwa rendahnya pemahaman terhadap gejala awal serta kuatnya stigma negatif terkait isu kesehatan jiwa menjadi faktor utama yang membuat masyarakat enggan berkonsultasi ke psikolog atau psikiater.

“Masih adanya stigma negatif membuat orang enggan mencari pertolongan. Misalnya, orang yang sedih terus atau tidak bersemangat sering dibilang kurang kuat iman,” ujar Yunita.

Akibatnya, banyak orang melewatkan tanda-tanda awal gangguan mental, yang kemudian berisiko berkembang ke kondisi yang lebih serius. Padahal, deteksi dan penanganan dini sangat penting untuk mencegah depresi ringan berubah menjadi gangguan berat.

Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati menyebut warga yang teridentifikasi mengalami masalah mental melalui cek kesehatan gratis akan menjalani skrining lanjutan menggunakan instrumen SRQ-29 dan konsultasi psikolog klinis. Jika ditemukan gejala lebih berat, mereka dirujuk ke psikiater di RSUD.

Hingga 22 November 2025, Ani menyebut total sudah ada 1.953.661 warga dewasa dan lansia telah mengikuti CKG, 365.533 di antaranya mengisi skrining kesehatan jiwa (PHQ).

Hasil yang didapatkan 10.945 orang atau 2,99 persen menunjukkan kemungkinan gejala depresi. Sementara 9.072 orang atau 2,48 persen mengeluhkan gejala kecemasan.

Angka ini menjadi dasar pemetaan lanjutan untuk menentukan wilayah dan kelompok berisiko tinggi.

Pihaknya juga memastikan ketersediaan tenaga psikolog klinis, yang saat ini sudah tersedia di 43 puskesmas kecamatan dan 16 RSUD.

Dinkes DKI juga menambah jumlah psikolog klinis dengan menggandeng organisasi profesi, serta meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam tata laksana kesehatan jiwa.

Dalam Keputusan Gubernur Nomor 165 Tahun 2025 tentang Tim Pengarah Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM), dipastikan koordinasi lintas sektor dalam memberikan dukungan dan layanan kesehatan mental sesuai kewenangan masing-masing.

Menurut Ani, langkah-langkah tersebut diharapkan dapat mempercepat deteksi dini, mengurangi stigma, dan memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan mental.

“Kami berharap masyarakat semakin berani mencari pertolongan dan memanfaatkan layanan yang tersedia. Kesehatan jiwa sama pentingnya dengan kesehatan fisik,” ujar Ani seperti dilansir detikcom, Minggu (23/11/2025).

Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, diharapkan pemerintah dan masyarakat dapat bekerja sama menciptakan lingkungan yang lebih sehat secara psikologis, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta yang penuh dinamika dan tekanan hidup.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

1,459FollowersFollow
7,451FollowersFollow
7,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles