25.2 C
Jakarta
Sunday, February 1, 2026
spot_img

13 Orang Tewas, 3 Hilang, dan 2.244 Jiwa Mengungsi Akibat Banjir dan Longsor di Sumatera Utara

PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Curah hujan tanpa jeda sejak akhir pekan memicu banjir dan tanah longsor di tujuh kabupaten/kota di Sumatera Utara (Sumut). Air sungai yang meluap membawa lumpur dan material ke permukiman. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Utara (Sumut) mencatat 13 orang meninggal, puluhan luka-luka, dan ribuan warga terpaksa mengungsi.

Kabid Penanganan Darurat, Peralatan, dan Logistik BPBD Sumut Sri Wahyuni Pancasilawati mengatakan, korban jiwa tersebar di dua kabupaten terdampak paling parah:

Tapanuli Selatan: 9 orang meninggal dunia
– 6 orang di Kecamatan Batangtoru
– 1 orang di Kecamatan Sipirok
– 2 orang di Kecamatan Angkola Barat

Tapanuli Tengah: 4 orang meninggal dunia

“Hingga pukul 08.00 WIB pagi ini terdapat 13 orang dinyatakan meninggal dunia di tujuh kabupaten/kota. Korban yang mengalami luka-luka ada 37 orang, dan tiga orang masih dinyatakan hilang di Tapanuli Selatan. Di Tapanuli Tengah masih dalam pendataan,” kata dia.

Upaya evakuasi serta pencarian korban terus dilakukan oleh tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan.

Bencana Hidrometeorologi Akibat Curah Hujan Tinggi

Menurut laporan BPBD Sumut, bencana ini dipicu oleh curah hujan tinggi yang terjadi sejak akhir pekan lalu Sabtu (22/11/2025), puncaknya ketika hujan lebat mengguyur hampir seluruh kawasan barat Sumatera Utara hingga Selasa (25/11/2025) menyebabkan air sungai meluap dan membawa material lumpur serta batuan ke permukiman warga, menutup akses jalan, jembatan hanyut, dan menyebabkan kerusakan parah di berbagai wilayah.

BPBD menyebut tujuh daerah terdampak, yakni Tapanuli Tengah, Sibolga, Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, Nias Selatan, dan Padangsidimpuan.

Dampak Kerusakan dan Pengungsian

Di Tapanuli Selatan, 330 rumah rusak dengan rincian 12 kategori rusak berat, 6 rusak sedang, dan 312 rusak ringan. Satu sekolah ikut roboh. Mandailing Natal mengalami banjir cukup parah dengan 561 kepala keluarga atau 2.244 jiwa mengungsi, disertai kerusakan 13 rumah dan terendamnya 85 hektare lahan pertanian.

Tapanuli Utara juga mencatat 19 kepala keluarga di pos pengungsian, lima rumah rusak berat, 64 rusak ringan, dan satu jembatan terputus. Di Nias Selatan, satu rumah hancur dan satu ruas jalan terganggu. Padangsidimpuan melaporkan satu korban hilang dan 220 jiwa tinggal sementara di pengungsian.

Pemerintah daerah telah menetapkan status tanggap darurat bencana dan mendirikan posko bantuan di beberapa titik terdampak dan dapur umum mulai diaktifkan sejak Selasa (25/11/2025) malam. Bantuan logistik seperti makanan, air bersih, selimut, dan obat-obatan telah mulai disalurkan.

“Kami prioritaskan evakuasi korban hilang dan penyaluran bantuan bagi warga terdampak,” ujarnya.

Sri mengatakan BPBD Sumut masih menunggu pembaruan data dari kabupaten/kota karena beberapa wilayah belum dapat diakses relawan akibat jalan yang tertutup material longsor.

BPBD Sumut mengimbau masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana untuk tetap waspada dan mengikuti arahan petugas. Pemerintah juga mengintensifkan pemantauan cuaca dan kondisi tanah untuk mengantisipasi potensi longsor susulan.

“Warga diimbau untuk tidak beraktivitas di sekitar lereng yang rawan longsor dan segera mengungsi jika terjadi hujan deras berkepanjangan,” ujar Sri Wahyuni.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

1,459FollowersFollow
7,451FollowersFollow
7,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles