32.3 C
Jakarta
Sunday, May 17, 2026
spot_img

Mega Proyek Giant Sea Wall Pantura Dikebut, Pembangunan Dibagi ke 15 Segmen

PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) menyatakan bahwa pembangunan proyek tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall di sepanjang Pantai Utara (Pantura) Jawa akan dilakukan secara bertahap dan dibagi ke dalam 15 segmen guna mempercepat proses konstruksi.

Kepala BOPPJ, Didit Herdiawan Ashaf, menjelaskan bahwa proyek yang memiliki panjang sekitar 575 kilometer tersebut tidak dikerjakan secara berurutan dari barat ke timur, melainkan dilakukan secara paralel di berbagai titik prioritas.

“Pembangunannya sendiri lebih kurang sekitar 575 km di Pantura Jawa. Tidak kecil atau tidak pendek panjang ini. Kita bagi ke dalam 15 segmen di mana bisa menggunakan kegiatan pembangunan secara paralel,” kata Didit usai Kick Off Meeting Infrastruktur Perlindungan Pesisir Pantura di Kantor Kementerian Perikanan dan Kelautan, Jakarta Pusat, Senin (4/5/2026).

Pembagian proyek ke dalam beberapa segmen ini dinilai penting untuk mempercepat realisasi proyek infrastruktur berskala besar tersebut. Dengan metode ini, pekerjaan konstruksi dapat dilakukan secara bersamaan di sejumlah wilayah yang dianggap prioritas.

“Makanya kami bangun dengan menggunakan cara 15 segmen. Jadi tidak harus menyambung dari barat ke timur tapi kondisi-kondisi tertentu mungkin segmen 3 yang menjadi prioritas di Pekalongan atau segmen 4 di lain titik. Itu kita lakukan intervensi di situ dengan catatan tentunya dilakukan sesuai dengan prosedur yang ada,” katanya.

Saat ini, proyek masih berada di tahap perencanaan. Pemerintah ingin memastikan proses perencanaan dan persiapan berjalan beriringan sebelum masuk ke tahap konstruksi fisik, meski waktu groundbreaking belum bisa dipastikan.

Namun, Didit tidak menjelaskan detail dari 15 segmen tersebut meliputi wilayah mana saja dan seberapa panjang.

Tetapi Didit mengungkapkan, perencanaan untuk wilayah Kendal, Semarang, dan Demak sudah hampir rampung dan mendekati 80%. Tiga wilayah ini pun disiapkan sebagai prioritas awal pembangunan giant sea wall.

Untuk wilayah lain seperti Pekalongan, kajian masih terus diperdalam, terutama menyangkut kondisi perairan dan karakter pantai agar pembangunan nantinya tepat sasaran.

“Tentunya perlu ada investigasi lagi untuk perairannya, pantainya dan sebagainya. Tetap kita lakukan. Sehingga pelaksanaan kegiatan ini bisa dilaksanakan simultan sebetulnya. Makanya kami bangun dengan menggunakan cara 15 segmen,” sambung Didit.

Disisi lain, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengatakan proyek ini bukan sekadar infrastruktur biasa, melainkan kebutuhan mendesak.

“Pembangunan giant sea wall merupakan pembangunan jangka panjang 10 tahun hingga 20 tahun, karena membutuhkan anggaran yang cukup besar dan proses pembangunannya perlu kehati-hatian,” kata AHY dalam paparannya pada rapat koordinasi Badan Otorita Pengelola Pantura Jawa (BOPPJ), Senin (4/5/2026).

AHY menambahkan, meski pembangunannya dilakukan secara bertahap, tetapi khusus di Jakarta dan Semarang, termasuk wilayah Kendal dan Demak, pembangunan giant sea wall harus dipercepat karena wilayah ini menjadi yang paling parah kondisinya, di mana permukaan tanah sudah di bawah permukaan air laut.

“Paling buruk penurunan tanah dan kenaikan air laut terjadi di Jakarta dan Semarang, ini yang perlu diantisipasi secepatnya,” lanjut AHY.

Untuk di Jakarta, nantinya tanggul laut raksasa akan dibangun di sekitar Teluk Jakarta. Sedangkan di Semarang, nantinya akan dibangun mulai dari pesisir Kendal hingga Demak.

“Tentu, kita identifikasi yang paling rentan adalah Teluk Jakarta dan Semarang sekitarnya secara simultan. Ada kurang lebih 535 km dari barat hingga timur yang harus dibangun giant sea wall. Tapi tentu kita harus menentukan mana yang paling rentan terlebih dahulu untuk diatasi,” jelas AHY.

Sebagai informasi, Pemerintah melalui Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) mempercepat sistem perlindungan terintegrasi pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa.

Pemerintah Republik Indonesia melalui BOPPJ menegaskan bahwa pengembangan sistem perlindungan pesisir Pantura Jawa, termasuk Tanggul Laut Raksasa atau Giant Sea Wall (GSW), merupakan bagian dari strategi nasional untuk menjaga keberlanjutan peradaban pesisir Pantura Jawa.

Selain mengalami penurunan permukaan air tanah, menurut dia, wilayah Pantura Jawa juga mengalami banjir rob akibat kenaikan permukaan air laut sehingga dapat mengancam terhadap aset-aset nasional yang berada di wilayah tersebut.

Selain itu, kota-kota strategis di wilayah Pantura Jawa seperti Semarang juga mengalami penurunan permukaan tanah (land subsidence) dan mengalami rob.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

1,459FollowersFollow
7,451FollowersFollow
7,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles