32.3 C
Jakarta
Sunday, May 17, 2026
spot_img

Rekor Baru Pelemahan Rupiah, Tembus Rp 17.400 per Dolar AS, Mampukah Bangkit Hari Ini?

PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mencatatkan rekor terburuk sepanjang sejarah. Sekedar mengingatkan, berdasarkan data pasar spot, rupiah dibuka melemah ke level Rp 17.401 per dolar AS pada Selasa (5/5/2026).

Dengan pergerakan tersebut, rupiah resmi menembus level psikologis Rp17.400/US$ yang sekaligus mencetak level terlemah intraday terbaru sepanjang masa.

Melanjutkan tren depresiasi dari hari sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) proyeksi masih dalam tekanan pada perdagangan hari ini (6/5/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) membuka perdagangan hari ini, dengan stagnasi di Rp17.419/US$.

Namun di pasar luar negeri alias offshore, rupiah menguat tipis 0,09% ke posisi Rp17.404/US$, di tengah komitmen Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi yang intensif di pasar luar negeri.

Respon Bank BI

Pelemahan rupiah tidak terjadi secara terisolasi. BI menilai depresiasi ini sejalan dengan tren pelemahan mata uang negara berkembang lainnya. Tekanan berasal dari meningkatnya ketidakpastian global, termasuk konflik geopolitik di Timur Tengah yang mendorong investor beralih ke aset aman seperti dolar AS.

Selain faktor eksternal, penyusutan surplus perdagangan serta penguatan indeks dolar AS turut memperparah tekanan terhadap rupiah.

Kemarin, Gubernur B Perry Warjiyo menyebut otoritas moneter terus mengupayakan penguatan pasar intervensi di offshore Non-Deliverable Forwards (NDF) agar lebih mampu mengendalikan perkembangan nilai tukar di luar negeri.

Selain itu, BI juga mengizinkan bank-bank domestik untuk ikut menjual rupiah di luar negeri, sehingga pasokan lebih lebih banyak dan tentu akan memperkuat stabilisasi dari nilai tukar rupiah.

BI memastikan akan terus melakukan intervensi di pasar valuta asing, baik domestik maupun internasional, untuk menjaga kestabilan nilai tukar. Kebijakan ini didukung oleh koordinasi erat antara otoritas fiskal dan moneter, termasuk Kementerian Keuangan dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Pemerintah juga menekankan pentingnya sinergi antar lembaga dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk memastikan respons kebijakan berjalan efektif di tengah gejolak global.

Proyeksi Pergerakan Rupiah

Pengamat pasar uang Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong bahkan mengatakan, rupiah dan mata uang regional umumnya melemah terhadap dolar AS di tengah kekhawatiran akan eskalasi di Timur Tengah dan harga minyak mentah dunia yang masih di atas US$ 100 per dolar AS.

Data pertumbuhan ekonomi kuartal I – 2026 yang dirilis lebih kuat dari perkiraan, menahan pelemahan yang lebih besar.

Lukman mengatakan investor menantikan data ekonomi AS yakni data ISM Services Purchasing Managers’ Index (PMI) dan data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS). Lukman memproyeksikan rupiah bergerak dikisaran Rp 17.375 – Rp 17.500 per dolar AS pada hari ini.

Pemerintah Jaga Stabilitas Rupiah

Bagi rupiah, pergerakan ke depan masih akan dibayangi oleh kondisi perekonomian domestik, khususnya pertumbuhan di sektor riil.

Pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memaparkan sejumlah strategi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang saat ini berada di bawah tekanan kuat akibat dinamika global dan meningkatnya permintaan dolar Amerika Serikat (AS).

Dalam keterangannya di Jakarta, pada Selasa, 5 Mei 2026, Airlangga menegaskan bahwa pemerintah bersama Bank Indonesia telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif untuk meredam volatilitas nilai tukar.

Salah satu langkah utama adalah memperkuat kerja sama internasional melalui skema pertukaran mata uang atau currency swap dengan sejumlah negara mitra.

“Kita sudah mempersiapkan dengan Bank Indonesia terkait swap currency dengan China, Jepang, Korea, dan negara lain,” ujar Airlangga.

Selain kerja sama bilateral, pemerintah juga menempuh strategi diversifikasi pembiayaan negara melalui penerbitan surat berharga dalam berbagai mata uang selain dolar AS, seperti yuan dan yen, guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar sekaligus menjaga stabilitas rupiah.

Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat likuiditas valuta asing di dalam negeri dan menahan tekanan eksternal yang terus meningkat.

Pemerintah juga terus menyesuaikan komposisi utang dan instrumen pembiayaan agar lebih adaptif terhadap perubahan pasar global. Ia mengatakan pemerintah juga akan terus melakukan mitigasi terhadap potensi risiko eksternal.

Lebih lanjut, ia berharap koordinasi kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia dapat terus memperkuat stabilitas ekonomi nasional di tengah dinamika global ke depan.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

1,459FollowersFollow
7,451FollowersFollow
7,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles