PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah menyiapkan penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif pengganti LPG tabung 3 kilogram. Langkah ini diambil untuk menekan beban subsidi energi sekaligus mengurangi ketergantungan impor gas.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman mengatakan bahwa harga CNG bisa 30% lebih murah dibanding LPG.
“Dengan konten yang sama, dengan harga yang sama dengan LPG 3kg, kita bisa menghemat 30 persen. Subsidinya lebih rendah (CNG) daripada subsidi LPG,” ujar Laode di acara “CNG & LNG untuk Rakyat” di Jakarta, Selasa, (5/5/2026).
Laode menjelaskan bahwa LPG membutuhkan anggaran yang lebih banyak, sebab LPG tak hanya membutuhkan subsidi, tetapi juga harus diimpor dari luar negeri.
“Jadi, ada dua beban sebenarnya dari LPG. Sudah subsidi, dia impor. Ini ada devisa juga kita keluarkan,” ucapnya.
Sementara itu, untuk CNG, Laode menyampaikan Indonesia sudah menghasilkan gas bumi sendiri yang diyakini dapat memenuhi kebutuhan di dalam negeri.
Dengan demikian, setelah melalui proses perhitungan, Laode meyakini Indonesia bisa menghemat 20–30 persen subsidinya apabila beralih dari LPG ke CNG.
Hitungan tersebut, lanjut Laode, masih bisa disimulasikan lebih jauh sebab masih merupakan hitungan awal.
“Artinya, ini kenapa tidak kita manfaatkan? Gasnya juga dari kita sendiri, sehingga kita tidak perlu beli dari luar,” ujar Laode.
Lebih lanjut Laode mengatakan, masyarakat juga tak perlu memodifikasi kompor saat menggunakan CNG. Ia pun mengklaim, api yang berasal dari CNG lebih panas dibandingkan LPG
“Tidak ada lagi modifikasi di kompor, langsung [pasang], nyala kompor itu dengan CNG dan apinya tetap lebih biru malah kalau saya perhatikan,” ucapnya.
Dia menuturkan, pemerintah menargetkan implementasi pemanfaatan CNG sebagai pengganti LPG 3 kg dilakukan tahun ini. Pihaknya tengah menyiapkan produksi tabung untuk menampung CNG.
“Tahun ini [bisa dikonsumsi masyarakat],” kata Laode.
Dia mengatakan, pemanfaatan CNG untuk rumah tangga akan dilakukan secara bertahap. Artinya, implementasinya bakal dilakukan dahulu di kota-kota besar, sebagai percontohan.
Meski demikian, aspek keselamatan menjadi perhatian utama. Pemerintah melalui Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (LEMIGAS) tengah menguji ketahanan tabung CNG, termasuk uji tekanan dan standar keamanan lainnya sebelum implementasi dilakukan secara masif.
Berdasarkan penjelasan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), CNG merupakan bahan bakar gas yang dibuat dengan mengompresi gas alam yang terdiri dari C1 atau metana dan C2 atau etana.
Kemudian, CNG disimpan dan didistribusikan dalam bejana tekanan atau tabung pada tekanan tinggi, antara 200 hingga 250 bar (setara 2.900 hingga 3.600 psi).
Ketahanan tabung juga diklaim dapat mencapai 650 baru atau 9.427 psi. Dengan begitu, tabung CNG bakal memiliki toleransi yang besar untuk kebutuhan keamanan.
Pemanfaatan CNG sebagai substitusi LPG kg belakangan didorong oleh pemerintah. Ini tak lepas dari tingginya impor LPG.
Berdasarkan catatan Kementerian ESDM, konsumsi elpiji nasional mencapai 8,6 juta ton per tahun. Namun, produksi domestik hanya berkisar 1,6 juta hingga 1,7 juta ton, sehingga sebagian besar kebutuhan masih bergantung pada impor. Secara global, LPG sendiri merupakan produk turunan dari industri minyak dan gas.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan bahwa, CNG memiliki keunggulan karena seluruh bahan bakunya tersedia di dalam negeri, termasuk sumber gas alam yang melimpah sehingga tidak perlu bergantung pada impor.
Selain itu, pemerintah juga menemukan cadangan gas baru di Kalimantan Timur yang berpotensi dialokasikan untuk kebutuhan domestik.
Kelebihan lain CNG adalah bahan bakar tersebut di nilai paling ramah lingkungan, harganya pun lebih murah. Di samping itu, biaya transportasi yang lebih rendah turut menekan harga. Dia juga mengatakan, penggunaan CNG sebenarnya sudah berjalan di sejumlah wilayah, terutama di Pulau Jawa, meski masih terbatas pada skala besar seperti hotel, restoran, hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Selain efisiensi biaya, pemanfaatan CNG dinilai berpotensi mengurangi beban devisa negara secara signifikan. Bahlil memperkirakan penghematan bisa mencapai Rp130 triliun hingga Rp137 triliun apabila konversi berjalan optimal.
“Kalau teknologinya sudah ada, kita bisa melakukan efisiensi devisa kurang lebih Rp130 triliun sampai Rp137 triliun,” ujarnya di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Terkait skema subsidi, lanjut dia, pemerintah masih melakukan kajian menyeluruh. Opsi pemberian subsidi tetap terbuka, namun mekanisme dan volumenya masih dalam pembahasan.
Bahlil mengakui pengembangan CNG masih menghadapi sejumlah tantangan. Namun, pemerintah tetap mendorong pengembangan CNG demi efisiensi energi dan penguatan kemandirian energi nasional.
Menyitir situs resmi Kementerian ESDM, terdapat 33 badan usaha niaga CNG di Indonesia.
Salah satunya adalah PT Gagas Energi Indonesia, anak usaha PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) atau PGN. Saat ini, PGN Gagas mengoperasikan 14 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) di 7 provinsi, dengan rata-rata pengisian sekitar 2.200 kendaraan per hari untuk layanan CNG masyarakat atau Gasku.
Untuk industri, PGN Gagas melayani lebih dari 600 pelanggan dengan total penyaluran mencapai 4.067.002 million british thermal unit (MMBtu) sepanjang 2025.



