PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Kementerian Kebudayaan resmi merilis lima jilid buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global di Gedung A Kemendikdasmen, Senayan, Jakarta, pada Senin (31/8/2026). Lima jilid tersebut menjadi bagian dari rangkaian buku sejarah Indonesia yang disusun dengan melibatkan123 pakar dari 34 perguruan tinggi dan 11 lembaga independent di Tanah Air.
Proyek tersebut mencakup 10 jilid utama serta satu jilid fakta dan aneka dengan keseluruhan materi mencapai hampir 8.000 halaman. Penyusunan buku sejarah ini menghabiskan anggaran sekitar Rp9 miliar.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan, peluncuran lima jilid pertama buku sejarah ini merupakan penyempurnaan dari soft launching yang sebelumnya dilakukan pada 14 Desember 2025.
“Kita meresmikan seri ‘Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global’, satu karya historiografi bangsa yang disempurnakan secara menyeluruh sejak soft launching pada tanggal 14 Desember 2025 yang lalu,” ujar Fadli dalam Taklimat Media di Jakarta Pusat, Senin.
Pada tahap pertama, pemerintah meluncurkan lima jilid dari total 10 jilid yang dirancang. Lima jilid tersebut memiliki total hampir 5.000 halaman.
Kelima jilid itu masing-masing berjudul 1) Akar Peradaban Nusantara; 2) Nusantara dalam Jaringan Global: Perjumpaan Budaya dengan India, Tiongkok, dan Persia; 3) Nusantara dalam Jaringan Global: Timur Tengah; 4) Interaksi Awal dengan Barat: Kompetisi dan Aliansi; 5) Masyarakat Indonesia dan Terbentuknya Negara Kolonial.
Politikus Partai Gerindra ini mengeklaim, sejak awal proses penyusunan, Kementerian Kebudayaan secara konsisten hanya menempatkan diri sebagai fasilitator.
“Substansi, metodologi, dan narasi sepenuhnya diserahkan kepada para sejarawan secara independen kepada tim penulis untuk menjaga objektivitas, kebebasan akademik,” kata dia.
Fadli menyebutkan, negara bertugas untuk menjamin wadah bagi pencarian, pengujian, pengayaan pemahaman sejarah secara terbuka, objektif, dan bisa dipertanggungjawabkan.
Adapun lima jilid perdana tersebut memiliki total sekitar 5.700 halaman. Isinya membahas perjalanan Indonesia mulai dari akar peradaban Nusantara hingga terbentuknya negara kolonial pada abad ke-19.
Fadli mengatakan, pada Jilid Pertama, pembaca akan dibawa pada era “Akar Peradaban Nusantara” yang mengupas fondasi biologis, ekologis, sosial, dan kultural sebelum perjumpaan intensif dengan peradaban luar.
Jilid kedua membahas posisi Nusantara dalam jaringan global. Interaksi dengan India, Tiongkok, dan Persia menjadi bagian dari pembahasan mengenai terbentuknya jaringan ekonomi dan pertukaran budaya di kawasan.
“Jilid 2, Nusantara dalam Jaringan Global. Ini perjumpaan budaya dengan India, Tiongkok, dan Persia yang ketika pada masanya itu sangat berpengaruh dan merupakan imperium-imperium besar,” kata Fadli Zon.
Selanjutnya, jilid ketiga mengangkat tema Nusantara dalam Jaringan Global: Timur Tengah. Buku ini antara lain membahas peradaban maritim, komunitas Muslim, akulturasi hukum, serta terbentuknya identitas maritim dan masyarakat multikultural.
“Jilid 3, Nusantara dalam Jaringan Global: Timur Tengah, membahas peradaban maritim, komunitas muslim, akulturasi hukum, dan kekuatan identitas maritim, dan multikultural,” ujar Fadli.
Jilid keempat membahas interaksi awal Nusantara dengan bangsa-bangsa Barat. Pembahasannya mencakup kompetisi, aliansi, hingga respons berbagai kekuatan lokal terhadap ekspansi Barat.
Terakhir, pada Jilid 5 bertajuk, “Masyarakat Indonesia dan Terbentuknya Negara Kolonial”.
“Menyoroti penataan administrasi kolonial, perubahan sosial, perlawanan, hingga perkembangan kesadaran nasional,” ucap Fadli.
Untuk lima jilid yang diluncurkan, editor berasal dari sejumlah perguruan tinggi, antara lain Universitas Indonesia, Universitas Hasanuddin, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Airlangga, dan Universitas Gadjah Mada.
Berikut nama-nama editor pada lima jilid pertama buku sejarah Indonesia.
Editor Jilid I:
• Prof. Dr. R. Cecep Eka Permana, M.Si. (Universitas Indonesia).
• Prof. Dr. Akin Duli, M.A. (Universitas Hasanuddin).
Editor Jilid II:
• Dr. Ninie Susanti Tejowasono, M.Hum. (Universitas Indonesia).
• Dr. Wanny Rahardjo Wahyudi, M.Hum. (Universitas Indonesia).
Editor Jilid III:
• Prof. Dr. Oman Fathurrahman, M.Hum. (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).
• Prof. Usep Abdul Matin, M.A., M.A., Ph.D. (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).
Editor Jilid IV:
• Dr. Bondan Kanumoyoso, M.Hum. (Universitas Indonesia).
• Dr. Phil. Zacky Khairul Umam (Universitas Islam Internasional Indonesia).
Editor Jilid V:
• Prof. Dr. Sarkawi B. Husain, M.Hum. (Universitas Airlangga).
• Prof. Dr. Agus Suwignyo, M.A. (Universitas Gadjah Mada).
Fadli memastikan buku tersebut tidak hanya ditujukan untuk kalangan akademisi maupun perpustakaan. Masyarakat luas juga dapat mengakses versi digitalnya secara gratis melalui platform Pustaka Budaya.
“Seluruh berkas publik yang diluncurkan hari ini dapat diunduh secara gratis oleh masyarakat luas melalui platform digital pustakabudaya.id,” katanya.
Masyarakat yang ingin membaca buku tersebut dapat membuat akun di platform Pustaka Budaya.
Setelah melakukan verifikasi, pengguna dapat memilih jilid yang tersedia dalam katalog untuk dipinjam secara digital.
Akses peminjaman diberikan selama 30 hari. Setelah itu, buku dapat dikembalikan secara digital sehingga dapat dimanfaatkan pembaca lainnya.
Menurut dia, hal ini merupakan komitmen pemerintah untuk memperluas dan memeratakan akses masyarakat terhadap pengetahuan sejarah.
Pemerintah juga menyiapkan langkah pengamanan terhadap berkas digital agar isi buku tidak mudah diubah secara sembarangan oleh orang.
“Ini sudah ada watermark, sudah dienkripsi, supaya enggak diutak-atuk, diubah-ubah gambarnya oleh orang yang mungkin iseng-iseng,” kata Fadli.



