34.1 C
Jakarta
Friday, September 11, 2026
spot_img

Pedagang Kaca Tewas Dikeroyok Saat Kericuhan Demo 27 Agustus, Keluarga: Pamit Keluar, tapi Tak Kunjung Pulang

PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Kericuhan yang terjadi setelah aksi demonstrasi di depan Gedung DPR RI, Kamis (27/8/2026) malam, berujung duka bagi keluarga Bambang Setiyawan (60), warga Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Bambang, yang sehari-hari bekerja sebagai pedagang kaca atau cermin, meninggal dunia setelah menjadi korban pengeroyokan di Pejompongan, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat.

Bambang disebut bukan merupakan peserta demonstrasi. Ia keluar rumah sekitar pukul 21.00 WIB untuk mengecek lapak dagangannya di kawasan Jalan Pejompongan Raya. Namun, hingga larut malam, pria tersebut tidak kunjung kembali ke rumah.

Keluarga kemudian mencari keberadaannya. Hingga akhirnya, Bambang diketahui telah menjadi korban kericuhan dan dibawa ke Rumah Sakit Polri. Ia kemudian dinyatakan meninggal dunia.

Kisah tersebut disampaikan sang istri, Sudarsih (57), yang masih mengingat jelas saat terakhir kali suaminya meninggalkan rumah.

Menurut Sudarsih, pada Kamis sore dirinya masih menemani Bambang berjualan. Biasanya, keduanya menutup lapak sekitar pukul 18.00 WIB. Namun, situasi di sekitar lokasi saat itu mulai dipenuhi massa setelah berlangsungnya aksi demonstrasi.

Sekitar pukul 16.30 WIB, ia meminta Bambang menutup dagangan karena melihat massa mulai banyak.

“Saya lihat massa udah dari sana udah banyak, akhirnya saya bilang sama bapaknya, ‘Itu massa udah banyak’, saya bilang tutup. Pas dia melihat, ‘Oh ya udah, tutup’. Saya bantuinlah,” ujar dia saat di rumah duka, Jumat (28/8/2026).

Bambang kemudian keluar kembali sekitar pukul 21.00 WIB untuk mengecek kondisi lapak. Kepergian tersebut ternyata menjadi momen terakhir keluarga melihat Bambang dalam keadaan hidup.

Bambang tidak kunjung pulang hingga malam. Keluarga yang mulai khawatir kemudian berusaha mencari keberadaannya dan menanyakan kepada warga sekitar. Sudarsih sempat berharap suaminya hanya berada di sekitar lokasi.

“Saya ke situ anak saya sempat ngomong, ‘Mama tadi saya sudah dari situ tapi gak ada.’ Saya masih berharap ketemu kan. Ternyata saya ke situ gak ada,” ujar Sudarsih.

Keluarga baru memperoleh kepastian mengenai kondisi Bambang pada dini hari. Sekitar pukul 03.00 hingga 04.00 WIB, keluarga mengetahui bahwa Bambang telah menjadi korban dalam kericuhan.

Sudarsi mendapat kepastian bahwa suaminya telah meninggal setelah anaknya mengenali Bambang dalam sebuah video yang tersebar di media sosial.

Dalam video tersebut, tampak sejumlah pria memegang kayu. Kemudian, seorang pria tiba-tiba diseret oleh sekelompok pria tersebut dan dipukuli hingga tergeletak dan tidak sadarkan diri.

“Justru kita tahunya dari video. Kita enggak ada yang lihat jelas nih posisi mayat ini, posisi dia dipukulin, posisi dia dibawa, kita nggak tahu,” tutur dia.

Keluarga kemudian mengetahui Bambang telah dibawa ke RS Polri. Namun, nyawanya tidak tertolong.

Kematian Bambang menambah daftar korban yang muncul di tengah situasi ricuh setelah demonstrasi di Jakarta.

Selain Bambang, seorang pelajar bernama Faturohman, 18, juga tururt mengalami luka berat usai dikeroyok kelompok tak dikenal saat situasi kericuhan memuncak.

Korban Sedang Amankan Wilayah, Bukan Pengunjuk Rasa

Ketua RT 02 RW 06 Benhil, Aban Sobandi, mengungkapkan rasa prihatin mendalam atas aksi main hakim sendiri yang menimpa warganya.

Aban mengaku berada di lokasi kejadian saat kericuhan. Ia menegaskan bahwa para korban sama sekali tidak terlibat dalam aksi unjuk rasa di sekitar gedung DPR RI.

Para korban hanya berada di lokasi untuk menjaga keamanan lingkungan sekitar saat kericuhan mulai meluas ke pemukiman.

“Main comot saja yang dapat siapa saja. Padahal itu enggak ikutan demo. Warga sini enggak ada yang ikut-ikutan demo. Yang satu lagi main HP langsung dicomot,” ujar Aban saat ditemui di rumah duka Bambang, Jumat (28/8).

Aban juga menceritakan aksi brutal yang menewaskan Bambang. Ia menyebut aksi terjadi sekitar pukul 21.00 hingga 22.00 WIB.

Kelompok berpakaian bebas yang merangsek masuk dari arah flyover dinilai bertindak di luar prosedur hukum penanganan massa.

Bahkan, upaya penanganan darurat bagi korban tewas sempat mendapat hambatan dan intimidasi di lapangan.

“Bahkan sudah ditolongin, yang satu yang baru ketemu nih di Polda, sudah dipegang sama tim medis, mau dibawa tim medis, direbut. Tim medisnya dijorokin,” tambah Aban.

Atas peristiwa tragis yang merenggut nyawa warga pengampu wilayahnya tersebut, Aban menyayangkan adanya pelibatan pihak tanpa kewenangan resmi dalam pengamanan aksi di ruang publik.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

1,459FollowersFollow
7,451FollowersFollow
7,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles