34.1 C
Jakarta
Friday, September 11, 2026
spot_img

Miris! Seekor Orangutan Ditemukan Pingsan dan Kritis Akibat Terpapar Asap Karhutla di Kalimantan Barat

PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat (Kalbar) tidak hanya mengancam keselamatan manusia, tetapi juga berdampak serius terhadap satwa liar yang kehilangan habitat dan harus berhadapan dengan kepungan asap.

Seekor orangutan jantan dewasa ditemukan dalam kondisi sangat lemah hingga sempat tidak sadarkan diri di kawasan area perkebunan kelapa sawit yang berada di dekat karhutla di Desa Kuala Satong, Kabupaten Ketapang, Kalbar, pada Minggu (30/8/2026) pagi.

Primata dilindungi tersebut ditemukan pertama kali oleh seorang petani setempat bernama Jais saat sedang dalam perjalanan menuju ladangnya sekitar pukul 06.00 WIB.

Saat ditemukan, orangutan tersebut berada dalam kondisi sangat lemah dan tidak menunjukkan respons seperti satwa liar pada umumnya.

Jais kemudian berusaha memberikan pertolongan dengan menyediakan air minum. Warga yang melihat kondisi satwa tersebut selanjutnya menghubungi tim penyelamat untuk mendapatkan penanganan.

Orangutan tersebut kemudian diberi nama Sampurna, sesuai dengan lokasi tempat satwa itu ditemukan.

Laporan warga langsung ditindaklanjuti Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI).

Proses evakuasi dilakukan dengan membius Sampurna agar penanganan berlangsung aman. Setelah berhasil dievakuasi, dokter hewan YIARI memberikan oksigen dan infus karena Sampurna mengalami gangguan pernapasan.

Meski demikan, pada pemeriksaan awal tim tidak menemukan luka terbuka maupun luka bakar pada tubuh Sampurna.

Chief Executive Officer YIARI Karmele Llano Sanchez mengatakan Sampurna mengalami hipoksia yang diduga terjadi akibat pekatnya asap di kawasan tersebut.

“Orang utan tersebut mengalami hipoksia akibat kabut asap yang sangat tebal di kawasan tersebut,” kata Sanchez.

Tim medis menduga kuat primata tersebut mengidap Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat menghirup asap kebakaran hutan yang membakar wilayah tersebut sehari sebelumnya.

Sampurna disebut keluar dari habitatnya di hutan Kalimantan dan masuk ke area perkebunan untuk mencari tempat yang lebih aman dari kepungan asap.

Sanchez mengingatkan bahwa pemerintah Indonesia tidak boleh hanya berfokus pada pemadaman api di lapangan, tetapi juga harus mengantisipasi dampak jangka panjang terhadap kesehatan masyarakat, kelestarian hutan, dan populasi satwa liar.

Sementara itu, Dokter hewan YIARI Komara menjelaskan paparan asap karhutla dapat memberikan dampak serius terhadap kesehatan satwa liar, terutama pada sistem pernapasan.

“Asap karhutla mengandung berbagai partikel dan zat yang dapat masuk ke saluran pernapasan dan mengganggu fungsi paru-paru,” ujar Komara.

Menurut dia, paparan asap dalam kondisi pekat dan berlangsung selama beberapa hari dapat menyebabkan gangguan pernapasan hingga kekurangan oksigen atau hipoksia.

“Pemeriksaan menyeluruh dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan Sampurna, termasuk kemungkinan kerusakan atau gangguan pada paru-paru dan organ dalam lainnya,” katanya.

Usai mendapat penanganan awal di lapangan, Sampurna langsung dievakuasi menuju Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI di Sungai Awan Kiri untuk menjalani pemeriksaan medis menyeluruh, termasuk pemindaian paru-paru dan organ dalam.

Direktur Operasional YIARI Argitoe Ranting mengatakan kondisi karhutla yang masih terjadi membuat tim meningkatkan kesiapsiagaan, terutama dalam merespons laporan masyarakat terkait satwa liar yang terdampak.

“Tim medis dan tim penyelamatan YIARI kami siagakan selama 24 jam untuk merespons laporan dan melakukan tindakan penyelamatan apabila sewaktu-waktu dibutuhkan,” ujar Argitoe.

Penyelamatan Sampurna menambah daftar panjang satwa langka yang menjadi korban karhutla di Kalimantan Barat. Hingga akhir Agustus 2026, tim YIARI dan BKSDA tercatat telah menyelamatkan tujuh ekor orang utan yang terdampak bencana kebakaran hutan.

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), kebakaran hutan dan lahan di Indonesia telah menghanguskan setidaknya 202.010 hektar lahan sepanjang Januari hingga Juli.

Angka ini melonjak signifikan dibandingkan periode Januari hingga Juni yang mencatatkan luas kebakaran sebesar 107.465 hektar.

Pihak YIARI mengingatkan pemerintah untuk tidak hanya fokus pada pemadaman titik api, tetapi juga mempersiapkan mitigasi dampak jangka panjang terhadap kesehatan masyarakat, kelestarian hutan, dan perlindungan keanekaragaman hayati.

Jika kondisi kesehatannya telah pulih total dan fungsi organ dalamnya dinyatakan stabil, Sampurna rencananya akan dilepasliarkan kembali ke habitat aslinya di alam liar.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

1,459FollowersFollow
7,451FollowersFollow
7,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles