PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Sejumlah ilmuwan memperingatkan bahwa fenomena El Nino 2026 berpotensi menjadi salah satu yang terkuat dalam 150 tahun. Bahkan, berbagai model prakiraan menunjukkan fenomena kali ini dapat memecahkan seluruh rekor yang pernah tercatat sebelumnya.
Jika prakiraan itu terbukti, fenomena iklim tersebut diperkirakan akan mendorong suhu rata-rata global pada 2027 ke level tertinggi dalam sejarah pencatatan modern sekaligus memicu cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia.
Proyeksi tersebut disampaikan para peneliti dalam konferensi pers yang diselenggarakan Berkeley Earth, lembaga riset nirlaba berbasis di California, berdasarkan laporan yang dipublikasikan di jurnal Nature.
Zeke Hausfather, ilmuwan iklim dari Berkeley Earth, menjelaskan bahwa proyeksi terbaru mengindikasikan bahwa puncak El Nino kali ini bakal melampaui rekor tertinggi sebelumnya.
Ia menganalisis hasil simulasi dari 14 model prakiraan musiman yang berbeda. Hasilnya menunjukkan bahwa puncak suhu permukaan laut di Samudra Pasifik berisiko melonjak hingga sekitar 3,6°C di atas rata-rata, dan angka itu 0,8°C lebih tinggi dibanding rekor Super El Nino sebelumnya pada periode 2015-2016.
“Ini bukan sesuatu yang sudah pasti, tetapi kemungkinannya terus meningkat dari bulan ke bulan,” katanya, dikutip Rabu, (29/7/2026).
Hausfather menambahkan bahwa bukan tidak mungkin kombinasi El Nino dan pemanasan global akibat perubahan iklim mendorong suhu rata-rata global pada 2027 mencapai 1,7 derajat Celsius di atas tingkat praindustri. Kondisi tersebut berpotensi melampaui ambang batas 1,5 derajat Celsius yang menjadi target Perjanjian Paris.
Peneliti iklim Dartmouth College Justin Mankin mengatakan El Nino yang sedang berkembang menyerupai skenario yang selama ini diproyeksikan ilmuwan sebagai dampak perubahan iklim akibat aktivitas manusia.
Sementara itu, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), lembaga pemantauan cuaca dan iklim Amerika Serikat, secara resmi menyatakan mulainya fase El Nino pada bulan Juni. Seiring menguatnya El Nino, lautan akan menyalurkan makin banyak panas ke atmosfer dengan puncak suhu permukaan laut diperkirakan terjadi antara bulan November hingga Februari.
Lantaran momen puncak terjadi jelang akhir tahun, dampak kenaikan suhu global paling signifikan biasanya baru akan terasa pada tahun berikutnya.
Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa prakiraan masih memiliki ketidakpastian. Kekuatan akhir El Nino baru dapat dipastikan setelah kondisi atmosfer dan lautan terus dipantau dalam beberapa bulan ke depan.
Untuk diketahui, El Nino 1997-1998 dikenal sebagai salah satu yang paling dahsyat dalam sejarah. Saat itu berbagai negara mengalami kekeringan parah, gagal panen, kebakaran hutan, hingga gangguan ekosistem laut.
El Nino terakhir terjadi pada 2023–2024, sedangkan episode terbaru mulai berkembang sejak Juni 2026 setelah sebelumnya diprakirakan para ahli meteorologi.
Bagi Indonesia, El Nino umumnya memicu musim kemarau yang lebih panjang dan kering. Dampaknya antara lain meningkatnya risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta penurunan produktivitas pertanian.
Jika proyeksi El Nino yang sangat kuat tersebut terealisasi, tekanan terhadap ketahanan pangan, stabilitas harga bahan pokok, pengelolaan sumber daya air, serta risiko bencana hidrometeorologi diperkirakan akan lebih besar dibandingkan episode sebelumnya dan berpotensi memengaruhi kinerja perekonomian nasional.



