26.1 C
Jakarta
Monday, February 2, 2026
spot_img

UPDATE TERBARU KECELAKAAN PESAWAT ATR 42-500: 1 JENAZAH DAN SERPIHAN PESAWAT BERHASIL DITEMUKAN DALAM JURANG

PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) atas kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang hilang kontak sejak Sabtu (17/1/2026) memasuki fase baru pada Minggu (18/1/2026) setelah tim SAR gabungan menemukan satu jenazah korban dan sejumlah serpihan pesawat di lokasi jurang terjal Gunung Bulusaraung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Bagian yang pertama ditemukan adalah pintu, badan, dan ekor serta serpihan kecil-kecil dari pesawat.

Menurut rilis resmi Basarnas Makassar, badan dan ekor pesawat tersebut ditemukan pada pukul 07.49 WITA oleh tim darat. Mendapat informasi ini, Basarnas lalu memberangkatkan Tim AJU untuk melakukan evakuasi pada badan dan ekor pesawat ATR 42-500.

Evakuasi dilakukan dengan hati-hati mengingat posisi penemuan berada di lereng gunung yang terjal. Selain itu, kondisi cuaca yang berubah-ubah menjadi kendala bagi Tim SAR gabungan melakukan evakuasi.

Selain itu, satu korban berjenis kelamin laki-laki juga berhasil ditemukan pada Minggu siang di dasar jurang dengan kedalaman sekitar 200 meter, tak jauh dari tumpukan bagian-bagian pesawat.

“Di kedalaman jurang sekitar kurang lebih 200 meter dan berada di sekitar serpihan pesawat,” kata Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar selaku SAR Mission Coordinator (SMC), Muhammad Arif Anwar, di Kabupaten Maros, Sulsel, Minggu (18/1/2026).

Proses evakuasi jenazah kini tengah berlangsung melalui jalur pendakian yang terjal oleh unit khusus SAR.

Tim Rescue Unit (SRU) 3 melaporkan juga temuan serpihan pesawat berupa bagian rangka, kursi, dan indikasi lokasi mesin pesawat, yang menjadi petunjuk kuat bahwa kontak terakhir pesawat memang berada di lereng gunung tersebut.

Tim SAR juga telah menemukan alat pemancar sinyal (Emergency Locator Transmitter/ELT) milik pesawat ATR 42-500. Benda berwarna oranye itu awalnya sempat dikira blackbox atau kotak hitam pesawat.

Danrem 141 Toddopuli Brigjen TNI Andre Clift Rumbayan mengakui, pihaknya sempat keliru karena mengidentifikasi alat tersebut sebagai kotak hitam pesawat. Menurutnya, hal ini terjadi karena ciri-ciri yang mirip antara ELT dan kotak hitam.

Kasi Ops Basarnas Makassar Andi Sultan mengungkapkan, ELT pesawat itu memiliki ukuran sekitar 22 cm x 30 cm. Alat tersebut ditemukan pada bagian depan pesawat.

Sementara itu, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyampaikan dugaan awal terkait jatuhnya pesawat ATR 42-500. KNKT menduga pesawat menabrak gunung hingga membuat emergency locator transmitter (ELT) tidak berfungsi.

Hingga kini, Identitas jenazah yang ditemukan belum diumumkan secara resmi menunggu proses identifikasi lebih lanjut.

Otoritas keselamatan transportasi juga telah menyatakan akan melakukan penyelidikan menyeluruh atas penyebab kecelakaan, termasuk penggalian data dari alat perekam penerbangan jika ditemukan. Informasi resmi akan terus diperbarui seiring perkembangan operasi di lapangan.

Berdasarkan keterangan resmi Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (DJPU) Kemenhub, jumlah orang di dalam pesawat (Persons on Board/POB) rute penerbangan Yogyakarta-Makassar itu tercatat sebanyak 10 orang, yang terdiri atas tujuh awak pesawat dan tiga penumpang, dengan rincian sebagai berikut:

Awak Pesawat:
1. Capt. Andy Dahananto
2. SIC / FO M. Farhan Gunawan
3. FOO Hariadi
4. EOB Restu Adi P
5. EOB Dwi Murdiono
6. FA Florencia Lolita
7. FA Esther Aprilita S

Sebelumnya, pesawat ATR 42-500 terbang membawa 3 penumpang yang merupakan staf dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Mereka tengah menjalankan misi pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan lewat udara (air surveillance).Ketiga staf berada di bawah penugasan Direktorat Jenderal Pengawasan Kelautan dan Perikanan (PSTKP).

Masing-masing adalah :
1. Feri Irawan (Analis Kapal Pengawas),
2. Deden Mulyana (Penata Muda Tingkat 1), dan
3. Yoga Noval (Operator Foto Udara).

Di tempat terpisah, Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi menegaskan, proses pencarian pesawat ATR 42-500 terus dilakukan secara intensif. Ia memastikan, akan memberikan pendampingan, dukungan informasi, dan layanan yang dibutuhkan kepada keluarga korban.

Dudy menyampaikan, sejak laporan hilang kontak diterima, pemerintah langsung mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia. Operasi pencarian dan pertolongan dikoordinasikan oleh Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) dengan dukungan TNI, Polri, AirNav Indonesia, BMKG, pemerintah daerah, serta instansi terkait lainnya.

Ia mengimbau kepada masyarakat untuk tidak berspekulasi, dan tetap mengikuti informasi resmi yang disampaikan oleh pihak berwenang. CrisisCenter telah dibuka di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar sebagai pusat koordinasi informasi.

Sebagai catatan, pesawat ATR 42-500 beroperasi di bawah PT Indonesia Air Transport (IAT). Perusahaan ini pernah dimiliki oleh Grup MNC, lewat entitas yang kini bernama PT MNC Energy Investment Tbk (IATA). Namun pada 2024, IAT telah dilepas kepada pihak ketiga dalam transaksi senilai US$13 juta.

Pernyataan resmi dari KKP sebelumnya juga menyebut bahwa IAT telah dikontrak untuk menjalankan operasi wilayah kelautan, serta perbatasan Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

1,459FollowersFollow
7,451FollowersFollow
7,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles