32.2 C
Jakarta
Sunday, May 17, 2026
spot_img

Menperin Yakin Indonesia Berpotensi Jadi Raksasa Baru Industri Penerbangan ke-4 di Dunia Tahun 2030

PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu kekuatan utama dalam industri penerbangan global. Bahkan, Indonesia diproyeksikan masuk jajaran empat besar pasar penerbangan dunia pada 2030 mendatang, seiring pertumbuhan pesat mobilitas udara dan kebutuhan armada pesawat.

Menperin mengatakan, proyeksi ini menimbang jumlah penumpang yang terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Pada tahun 2025, penumpang pesawat domestik bergerak di kisaran 4,25-5,46 juta orang per bulan, atau lebih tinggi dibanding penumpang internasional di rentang 1,43-1,92 juta orang.

“Berdasarkan data IATA, Indonesia diproyeksikan menjadi pasar penerbangan terbesar keempat di dunia pada tahun 2030. Jadi tidak lama lagi kita akan menjadi pasar industri penerbangan terbesar keempat di dunia,” ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian PPN/Bappenas, Rabu (6/5/2026)

Selain itu, data dari McKinsey menunjukkan industri pesawat global sedang berada dalam tren positif, dengan total pesanan mencapai sekitar 15.700 unit pada 2024, menjadi sinyal kuat meningkatnya permintaan global.

Pertumbuhan sektor ini juga tercermin dari proyeksi peningkatan aktivitas penerbangan nasional. Berdasarkan data International Civil Aviation Organization (ICAO), penumpang Indonesia meningkat sangat signifikan, masing-masing mencapai sekitar 7,4 juta penerbangan dengan prospek hampir 690 juta penumpang pada tahun 2045.

Ia juga turut memaparkan capaian tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sejumlah produk pesawat nasional.

“Dengan capaian nilai TKDN, antara lain NC212 TKDN-nya 42,15 persen, CN235 TKDN-nya 38,74 persen, C295 TKDN-nya mendekati 21 persen, dan N219 TKDN-nya sudah sangat tinggi, mendekati 45 persen,” imbuhnya.

Menurut Agus, lonjakan kebutuhan armada otomatis akan meningkatkan permintaan komponen serta layanan perawatan, perbaikan, dan overhaul (MRO) pesawat.

“Oleh sebab itu melalui Joint Declaration of Intent (JDI) ini, pemerintah berharap terbangun kolaborasi kuat yang tidak hanya menghasilkan kerangka kerja strategis, tetapi juga menghadirkan alih teknologi yang nyata, peningkatan kandungan lokal dalam industri manufaktur pesawat udara,” katanya.

Namun demikian, Menperin mengatakan industri penerbangan sendiri masih menghadapi tantangan dari sisi Maintenance, Repair, and Operation (MRO) pesawat.

Saat ini Indonesia memiliki 64 perusahaan MRO yang tersebar di berbagai wilayah. Industri tersebut juga didukung keberadaan Indonesia Aircraft Management Services Association (IAMSA).

Kondisi ini turut membuat penurunan terhadap jumlah pesawat yang beroperasi. Pada tahun 2023 jumlah pesawat yang beroperasi 593 unit, tahun 2024 jumlahnya turun menjadi 582, dan tahun 2025 jumlahnya kembali turun menjadi 578 unit.

Menperin memaparkan penurunan jumlah pesawat beroperasi tersebut disebabkan karena gangguan rantai pasok global, akses terbatas terhadap komponen pesawat yang krusial, serta pemberlakuan tarif impor yang tinggi dan hambatan fiskal.

“Kita juga perlu mengakui bahwa industri yang MRO di Indonesia sedang menghadapi tantangan, tantangan yang semakin kompleks, terlebih terhadap turunnya jumlah pesawat yang beroperasi di Indonesia, dan juga tekanan biaya tinggi,” lanjutnya.

Menurutnya, penguatan sektor MRO menjadi krusial agar Indonesia tidak terus bergantung pada layanan perawatan pesawat di luar negeri yang berdampak pada tingginya biaya operasional maskapai. Selain itu, pemerintah juga mendorong kolaborasi antara industri, BUMN, dan lembaga pendidikan untuk mencetak tenaga kerja terampil di bidang aviasi.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa pemerintah juga membuka peluang investasi bagi pihak swasta, baik domestik maupun asing, untuk masuk ke sektor MRO. Dengan adanya investasi tersebut, diharapkan teknologi dan akses terhadap suku cadang pesawat bisa lebih terjamin.

Sebagai informasi, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) menandatangani Joint Declaration of Intent antara Bappenas dengan Airbus pada Rabu (6/5/2025).

Pemerintah berharap akan terdapat kolaborasi yang kuat, yang tidak hanya menghasilkan kerangka kerja strategis, tetapi juga menghadirkan alih teknologi yang nyata, peningkatan kandungan lokal dalam industri manufaktur pesawat kedirgantaraan, serta pemenuhan kapasitas sumber daya manusia di bidang teknologi, dirgantara, MRO, dan juga peningkatan peran Indonesia dalam rantai pasok global.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

1,459FollowersFollow
7,451FollowersFollow
7,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles