PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Pemerintah Indonesia bersama pelaku dunia usaha bersiap memperluas kerja sama ekonomi bilateral dengan Amerika Serikat. Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dijadwalkan akan terbang ke Washington D.C., Amerika Serikat (AS) pada pekan depan untuk menghadiri rangkaian pertemuan bisnis dan menandatangani kerja sama tarif impor. Dalam rombongan tersebut, sekitar 20 pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) akan ikut serta dalam agenda business summit yang digelar di ibu kota AS.
Ketua Umum Apindo, Shinta W. Kamdani, mengungkapkan persiapan delegasi telah rampung dan jumlah pelaku usaha yang berangkat bersama Presiden sudah dipastikan mencapai sekitar dua puluh orang.
“Kami, kan, minggu depan akan ada acara di Amerika, di Washington D.C., dalam rangka Presiden juga nanti akan ke sana, kami akan buat business summit di sana, bersama Presiden. Persiapan sudah matang dan nanti akan ada sekitar 20 pengusaha yang ikut yang udah [konfirmasi] ya,” kata Shinta di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Dia berharap delegasi pengusaha Indonesia dapat membawa manfaat langsung bagi dunia usaha khususnya dalam negosiasi tarif antara Indonesia dan AS agar bisa diselesaikan dengan baik serta membuka peluang investasi yang lebih luas.
Ia menjelaskan, pengusaha yang ikut dalam rombongan Presiden mencakup importir komoditas strategis dari AS seperti kedelai, terigu, jagung, dan kapas. Selain itu, eksportir yang memiliki pasar besar di Amerika juga akan hadir.
“Dari sisi eksportirnya seperti tekstil garmen, sepatu, mebel, kemudian ada dari palm oil atau kelapa sawit,” katanya.
Shinta menyatakan business summit ini merupakan momen penting untuk mendorong peningkatan akses pasar dan menyelesaikan isu-isu tarif yang sebelumnya menjadi kendala utama dunia usaha Indonesia di pasar AS.
Salah satu agenda utama adalah pembahasan mengenai skema Generalized System of Preferences (GSP), yang diharapkan dapat membuka peluang tarif yang lebih kompetitif bagi sektor padat karya.
“Kami masih mengharapkan sektor-sektor padat karya bisa mendapatkan tarif yang lebih baik,” kata Shinta.
Meski demikian, Shinta enggan memerinci apabila ada perkembangan baru terkait dengan produk maupun komoditas yang dikecualikan dari tarif impor AS sebesar 19%.
Dia menyebut pemerintahan Presiden Donald Trump menginginkan adanya kerahasiaan informasi. Ia khawatir informasi yang terburu-buru justru menjadi bumerang lantaran Amerika Serikat tidak menyukai pengumuman yang mendahului pihak mereka.
“Ini jadi gini ya, teman-teman media tolong bantu, sangat tolong bantu. Karena katanya saya kami tadi jangan sampai nanti informasi kita buka kemudian malah menjadi blunder. Karena Amerika tidak suka kalau ada informasi yang disampaikan mendahului daripada pihak Amerika,” tuturnya.
Shinta hanya menyampaikan bahwa nantinya pengusaha yang akan ikut bersama Presiden Prabowo ke AS berkepentingan dengan negara tersebut dari sisi perdagangan.




