PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) telah resmi mengirimkan surat terbuka kepada United Nations Children’s Fund (UNICEF) menyusul tragedi memilukan seorang siswa Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mengakhiri hidupnya diduga karena tidak mampu memenuhi kebutuhan belajar dasar.
Sebagai informasi peristiwa tragis yang terjadi pada 29 Januari 2026 ini menjadi perhatian nasional setelah seorang siswa kelas IV berinisial YBR (10) ditemukan tewas tergantung di pohon cengkih dekat tempat tinggalnya.
Korban meninggalkan sepucuk surat kepada ibunya, yang menurut aparat setempat menyinggung keputusasaan anak akibat tekanan ekonomi keluarga yang tidak mampu membeli buku dan pulpen untuk bersekolah seharga Rp 10 ribu rupiah.
Tragedi ini dinilai mencerminkan masih lemahnya perlindungan negara terhadap anak-anak dari keluarga kurang mampu, khususnya di wilayah tertinggal.
Dalam surat tersebut, BEM UGM memuat kritik tajam terhadap prioritas kebijakan anggaran pemerintah dan janji-janji pembangunan yang dinilai tidak mencerminkan realitas di lapisan masyarakat paling rentan.
Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto mengungkapkan bahwa tragedi korban merupakan gambaran nyata dari kegagalan negara dalam menjamin hak anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan terpenuhi secara utuh.
Menurut Tiyo, indikator-indikator statistik yang sering dipublikasikan pemerintah jauh dari realitas yang dialami keluarga miskin ekstrem di daerah terpencil.
“Angka-angka statistik yang dipamerkan pemerintah terlihat baik di atas kertas, tetapi sangat jauh dari realitas masyarakat,” ujar Tiyo dalam keterangan pers, Selasa (10/2/2026).
Tiyo menilai masih adanya anak yang kesulitan mengakses pendidikan karena kemiskinan menunjukkan adanya krisis prioritas kemanusiaan.
“Ketika negara berbicara tentang pertumbuhan dan stabilitas, di sisi lain ada anak yang tidak bisa melanjutkan sekolah karena kemiskinan ekstrem. Ini menunjukkan adanya krisis prioritas kemanusiaan,” tegasnya.
Dalam pernyataannya, Tiyo juga menyoroti sikap Presiden Prabowo Subianto yang dinilai tidak peka terhadap kondisi rakyat kecil. Ia menilai pemerintah terjebak dalam narasi optimisme yang tidak berpijak pada fakta lapangan.
“Presiden Prabowo hidup dalam imajinasinya sendiri,” tegas Tiyo.
BEM UGM secara khusus juga menyoroti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu contoh kebijakan yang disebut menyedot anggaran besar namun belum menyentuh akar persoalan ketimpangan struktural dan akses pendidikan yang setara.
BEM UGM menyebut alokasi anggaran MBG berpotensi mencapai Rp1,2 triliun per hari, sementara masih terdapat anak-anak yang kesulitan memenuhi kebutuhan pendidikan dasar.
BEM UGM bahkan menggunakan diksi yang sangat keras, menyebut Presiden sebagai “stupid President” atau “presiden bodoh”.
Mereka secara eksplisit meminta UNICEF untuk menyampaikan kepada Presiden betapa bodohnya ia sebagai seorang pemimpin.
“Help us to tell Prabowo how stupid he is as a president,” demikian kutipan kritik BEM UGM, sebagaimana dikutip dari akun Instagram @bem.ugm, Kamis (12/2/2026).
BEM UGM juga menilai pemerintah belum menunjukkan sikap terbuka untuk belajar dari berbagai kritik dan masukan.




