26.7 C
Jakarta
Wednesday, February 11, 2026
spot_img

5.168 Hektare Sawah di Kabupaten Bekasi Terdampak Banjir, Ancaman Gagal Panen Mengintai

PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Banjir yang melanda Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, selama sepekan terakhir tidak hanya merendam permukiman penduduk, tetapi juga menyeret sektor pertanian lokal. Data terbaru menunjukkan bahwa sebanyak 5.168,9 hektare sawah termasuk 132,8 hektare lahan persemaian terendam air banjir, mengancam kemungkinan gagal panen bagi para petani di wilayah tersebut.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, Abdillah Majid, menyatakan luasan sawah terdampak tersebar di 78 desa yang terdiri atas 16 kecamatan, termasuk wilayah seperti Pebayuran, Sukakarya, Sukawangi, Cabangbungin, Babelan, Tambun Utara, hingga Karangbahagia.

Kondisi banjir yang belum sepenuhnya surut membuat petugas di lapangan terus memperbarui data dampak.

Abdillah menjelaskan bahwa petugas belum dapat menghitung secara pasti kerugian ekonomi yang dialami petani.

“Kami juga belum bisa menghitung kerugian petani karena kondisi tanaman saat ini masih terdampak banjir dan juga belum ada laporan puso,” ujar Abdillah, dikutip dari Antara, Senin, 26 Januari 2026.

Ancaman gagal panen juga masih menghantui karena genangan air di lahan pertanian diperkirakan mencapai 20–60 sentimeter, tergantung lokasi.

Untuk merespons kondisi tersebut, Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi telah menyiapkan bantuan benih dan pestisida melalui Program Peningkatan Indeks Pertanaman (PIP) dari Direktorat Serealia, Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI yang biasanya mencakup sekitar 11.247 hektare sawah untuk masa tanam Januari–Februari 2026.

“Sementara bantuan untuk sawah yang terdampak banjir saat ini sedang dalam pengajuan ke kementerian,” ucap Abdillah.

Menurut Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi, Dodi Supriadi, banjir yang terjadi pada dataran rendah dan dekat aliran sungai berpotensi merusak tanaman padi yang tengah dalam masa tanam maupun menjelang panen.

Kondisi ini telah mengganggu sejumlah aktivitas pertanian seperti pemupukan, penyiangan, hingga proses panen.

“Jika air tidak segera surut, tanaman padi yang sedang dalam masa tanam maupun menjelang panen sangat berisiko mengalami puso,” katanya.

Lebih jauh, genangan air tidak hanya merusak tanaman, tetapi juga menghambat akses ke sawah, membuat saluran irigasi meluap, serta merendam alat-alat pertanian petani.

Semua faktor ini menambah beban para petani yang kini menghadapi tantangan modal dan waktu untuk musim tanam berikutnya.

Kini, para petani berharap adanya percepatan penanganan banjir serta skema bantuan yang efektif dari pemerintah pusat maupun daerah.

Selain itu, jika air banjir tidak segera surut dan tanaman gagal pulih, tentu dampaknya bisa meluas ke ketahanan pangan lokal, khususnya pasokan beras di tingkat konsumen di kawasan Bekasi dan sekitarnya.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

1,459FollowersFollow
7,451FollowersFollow
7,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles