PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Sebuah peristiwa memilukan mengguncang publik Indonesia. Seorang siswa Sekolah Dasar (SD) berusia 10 tahun berinisial YBS di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) ditemukan tewas setelah mengakhiri hidupnya. Dugaan kuat penyebab tragis itu adalah karena ia merasa putus asa tidak mampu membeli buku dan pena seharga Rp 10.000, kebutuhan pendidikan dasar yang bagi sebagian masyarakat sangat sederhana namun tak terjangkau bagi keluarga korban.
Kisah Tragis YBS dan “Surat Terakhir”
Peristiwa menyakitkan itu terungkap ketika warga setempat menemukan YBS mengakhiri hidup di pohon cengkeh dekat rumah neneknya di Dusun Sawasina, Desa Nuruwolu, Kecamatan Jerebuu. Sebelumnya, korban sempat meminta kepada ibunya uang untuk membeli buku tulis dan pena, tetapi karena kondisi ekonomi keluarga yang sangat terbatas, hal itu tidak terpenuhi.
Dalam sepucuk surat terakhir yang ditinggalkannya, YBS menulis kata-kata perpisahan kepada sang ibu, penuh rasa putus asa sebagaimana telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia:
“Surat buat Mama
Mama saya pergi dulu
Mama relakan saya pergi
Jangan menangis ya Mama
Tidak perlu Mama menangis dan mencari, atau mencari saya
Selamat tinggal Mama”.
Laporan media menggambarkan latar belakang keluarga YBS sangat rentan secara ekonomi. YBS diketahui tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun di sebuah pondok.
Ibunya, seorang janda berinisial MGT (47), bekerja sebagai petani dan buruh serabutan untuk menghidupi lima anaknya, termasuk YBS yang telah meninggal dunia. Ayah YBS diketahui telah meninggal saat YBS masih dalam kandungan.
Untuk mengurangi beban MGT, YBS pun diminta tinggal bersama neneknya.
Saat meminta uang untuk membeli buku dan pena seharga kurang dari Rp 10.000, ibunya MGT (47) menjawab: mereka tak punya uang.
Bagi keluarga mereka, mendapatkan uang dengan nominal itu memang tidak mudah. Rp 10.000 saja sulit bagi mereka yang tergolong masyarakat miskin.
Tak jauh dari pondok itulah korban akhirnya memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri di dahan pohon cengkeh pada Kamis (29/1/2026).
Kini, Kasus meninggalnya YBS tengah menjadi perhatian publik.
Dosen filsafat pada Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, RD Leonardus Mali, Selasa (3/2/2026), berpendapat, kemiskinan ekstrem seringkali membunuh lebih awal imajinasi anak-anak untuk bahagia dan bergembira dalam hidup. Anak-anak dari keluarga miskin ekstrem itu tidak tahu tujuan hidup mereka.
Anggota DPR asal NTT, Andreas Hugo Pareira, menambahkan, peristiwa tersebut merupakan tamparan bagi semua masyarakat. Ia pun mendorong pemerintah daerah agar serius menangani keluarga anak ini sehingga tidak terulang lagi di masa mendatang.
Sementara itu, Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Ina Ammania, menilai tragedi tersebut tidak akan terjadi apabila negara hadir memberikan perlindungan yang memadai terhadap anak, termasuk pemenuhan hak atas pendidikan.
Selain menyampaikan duka mendalam, legislator dari daerah pemilihan (dapil) Jawa Timur III itu menegaskan peristiwa tersebut seharusnya tidak terjadi, mengingat negara telah mengalokasikan anggaran pendidikan hingga ratusan triliun rupiah setiap tahunnya.
Ia juga menyinggung berbagai program bantuan sosial bagi keluarga tidak mampu yang disalurkan melalui sejumlah kementerian. Menurutnya, jika bantuan tersebut tepat sasaran, persoalan sederhana seperti kekurangan buku dan pena seharusnya dapat teratasi.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Abdul Muhaimin Iskandar yang akrab disapa Cak Imin mengatakan kasus tersebut menjadi pengingat agar semua pihak harus membuka diri untuk mudah dimintai tolong oleh siapa pun.




