PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Ekonomi Indonesia kembali mencetak prestasi gemilang di tengah tantangan global. Data resmi terbaru menunjukkan bahwa perekonomian RI mencatat pertumbuhan menarik sepanjang 2025, menjadikannya salah satu ekonomi dengan pertumbuhan tertinggi di antara anggota Group of Twenty (G20), melampaui raksasa ekonomi seperti Tiongkok dan Arab Saudi.
Menurut rilis dan perhitungan beberapa lembaga riset ekonomi nasional dan internasional, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2025 mencapai sekitar 5,11 persen secara tahunan (year-on-year), meningkat dibandingkan dengan 5,03 persen di tahun sebelumnya.
Data Badan Pusat Statistik mencatat, kuartal keempat menjadi penopang utama dengan lonjakan pertumbuhan mencapai 5,39 persen, rekor tahunan tertinggi sejak 2022.
Angka ini sekaligus menjadi salah satu capaian tertinggi dalam tiga tahun terakhir, didorong oleh konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari separuh PDB, serta lonjakan investasi dan sektor transportasi yang tumbuh signifikan. Tak hanya bertumpu di Jawa, geliat ekonomi juga kian merata dengan Sulawesi yang mencatatkan pertumbuhan regional tertinggi.
Capaian ini dinilai tidak hanya kompetitif secara global, tetapi juga mulai memberikan dampak nyata terhadap penciptaan lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengatakan, meski pertumbuhan tersebut masih berada di bawah potensi ekonomi nasional, kinerjanya patut disyukuri karena menjadi yang tertinggi sejak fase pemulihan pascapandemi Covid-19 pada 2022.
“Kalau ditanya puas atau belum puas, tentu bisa puas atau belum puas. Tapi yang perlu kita syukuri, pertumbuhan 5,39 persen ini adalah yang tertinggi sejak 2022, setelah rebound Covid-19,” ujar Juda dalam ekonomi outlook 2026 di Jakarta pada Selasa (10/2/2026).
Juda menyebut, dari sisi perbandingan global, Juda menilai posisi Indonesia cukup solid. Pertumbuhan ekonomi China pada kuartal IV tercatat berada di kisaran 4,5 persen, lebih rendah dibandingkan Indonesia.
“China misalnya, di kuartal IV itu sekitar 4,5 persen, sementara Indonesia 5,4 persen. Di antara negara G20, kita salah satu yang paling tinggi,” kata Juda.
Menurut dia, penguatan ekonomi juga tercermin dari indikator kepercayaan konsumen. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menunjukkan tren peningkatan yang sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, menandakan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi ke depan.
“Ini matching antara pertumbuhan ekonomi dan indeks keyakinan konsumen. Keduanya sama-sama naik, dan ini patut kita catat,” ujarnya.
Lebih jauh, Juda menekankan bahwa kualitas pertumbuhan ekonomi tercermin dari dampaknya terhadap kesejahteraan.
Salah satu indikator utama adalah penciptaan lapangan kerja. Berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), penyerapan tenaga kerja menunjukkan tren yang cukup menggembirakan.
Menurut Juda jika dilihat dalam periode Agustus hingga November 2025, jumlah tenaga kerja bertambah sekitar 1,37 juta orang hanya dalam satu kuartal. Secara tahunan, penciptaan lapangan kerja bahkan mencapai kisaran 3,4 juta hingga 4 juta orang.
Ia menilai momentum positif tersebut perlu terus dijaga dan diperkuat pada kuartal I tahun ini. Dengan pertumbuhan kuartal IV yang solid, pemerintah berharap kinerja ekonomi pada awal tahun dapat melampaui capaian periode yang sama tahun sebelumnya.
Pemerintah, kata Juda, akan terus mendorong pertumbuhan ekonomi agar tidak hanya tinggi secara angka, tetapi juga berdampak luas terhadap kesejahteraan masyarakat, penurunan kemiskinan, dan perluasan kesempatan kerja.




