27.5 C
Jakarta
Wednesday, February 18, 2026
spot_img

USTR Pastikan Kesepakatan Dagang AS-RI Akan Segera Rampung, Indonesia dan AS Sambut Momentum Baru

PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Perundingan yang telah lama berjalan antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) terkait kesepakatan perdagangan bilateral kini menunjukkan sinyal positif bahwa fase akhir pembicaraan tengah berlangsung dan dokumen akhir kesepakatan diperkirakan segera rampung dalam beberapa pekan mendatang.

Pernyataan optimis ini disampaikan oleh Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) Jamieson Greer dalam wawancara Fox Business, Selasa (10/2/2026), sekaligus mengonfirmasi bahwa kedua negara terus intensif berdialog demi menghasilkan sebuah kesepakatan yang dianggap strategis bagi kedua pihak.

Dalam wawancara yang dikutip dari Antara, Greer menyatakan bahwa Indonesia dipandang sebagai calon mitra dagang berikutnya yang siap menyelesaikan negosiasi dagang.

“Saya melihat Indonesia sebagai yang berikutnya,” ujarnya.

Ia menekankan adanya dialog hampir setiap hari antara delegasi AS dan Indonesia, yang menjadi indikator kuat bahwa kesepakatan ini berada dalam tahap akhir pembicaraan.

“Kami hampir setiap hari berdialog dengan pihak Indonesia, dan ini yang membuat kami senang,” kata Greer.

Greer juga menyoroti ukuran pasar Indonesia yang besar dengan populasi lebih dari 250 juta orang sebagai salah satu alasan penting mengapa AS mendorong percepatan kesepakatan ini.

Diketahui, Presiden AS Donald Trump telah mengumumkan tercapainya serangkaian kesepakatan dagang bilateral, termasuk dengan India dan Bangladesh, dalam beberapa hari terakhir.

Perkembangan ini terjadi menjelang putusan Mahkamah Agung AS terkait sah atau tidaknya tarif “resiprokal” yang diberlakukan pemerintahan Trump kepada hampir semua mitra dagang AS dengan dasar hukum UU darurat tahun 1970-an.

Putusan itu paling awal dapat diumumkan pada 20 Februari.

Greer mengatakan bahwa pemerintahan Trump “percaya diri” terhadap putusan Mahkamah Agung nantinya. Namun, jika Mahkamah Agung memutuskan tarif tersebut inkonstitusional, Trump dipastikan akan mencari jalan lain untuk dapat menetapkan kebijakan tarif tinggi.

“Mungkin akan perlu waktu lebih lama, tetapi kami … berfokus untuk memastikan keberlanjutan terkait jenis dan tingkat tarif yang perlu diberlakukan,” kata pejabat itu.

Di samping membahas Indonesia, pejabat dagang AS itu juga mengatakan bahwa hubungan dagang dengan Beijing saat ini masih “stabil” menjelang kunjungan Presiden Trump ke China, April mendatang.

Ia memastikan bahwa kunjungan tersebut, di mana Presiden Trump akan bertemu Presiden China Xi Jinping, “telah dijadwalkan”.

Menurut Greer, meski AS harus tetap berdagang dengan China, perdagangan yang berjalan harus “dikelola dengan cara yang akan bermanfaat bagi ekonomi maupun keamanan nasional”.

Pejabat AS dan China juga berkomunikasi secara rutin dan akan melakukan dialog lebih lanjut sebelum pertemuan antara Trump dan Xi.

“Kami berupaya untuk memastikan perdagangan mengalir di sektor-sektor yang penting bagi kedua negara,” kata dia.

Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (28/1), menyatakan proses negosiasi terkait kebijakan tarif impor Amerika Serikat yang semula ditargetkan rampung pada akhir Januari, kini diperkirakan mundur ke pertengahan Februari 2026.

Menurutnya, penyesuaian waktu lebih disebabkan oleh masih adanya sejumlah hal yang perlu dicari titik temu oleh kedua belah pihak. Meski demikian, ia menyatakan bahwa pergeseran jadwal bukan disebabkan oleh persoalan substansi.

Dikutip dari laman Kemenko Perekonomian, Indonesia dan Amerika Serikat sepakat untuk melanjutkan negosiasi soal tarif. Perundingan mencakup isu-isu tarif, hambatan non-tarif, ekonomi digital, keamanan ekonomi serta kerja sama komersial dan investasi.

Indonesia dan AS juga melihat potensi besar untuk memperluas kerja sama di sektor strategis seperti mineral kritis. AS disebut menunjukkan ketertarikan yang kuat untuk memperkuat kemitraan di bidang mineral kritis. Indonesia memiliki cadangan besar nikel, tembaga dan kobalt.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

1,459FollowersFollow
7,451FollowersFollow
7,700SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles