PETISI BRAWIJAYA MEDIA, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mengumumkan hasil Survei Konsumen periode Januari 2026 yang menunjukkan bahwa keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi Indonesia meningkat signifikan, mencapai tingkat tertinggi dalam setahun terakhir.
Pada Senin (9/2/2026), Data survei BI mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berada di 127,0, lebih tinggi daripada bulan sebelumnya yang tercatat 123,5, sekaligus menandai tingkat optimisme konsumen yang kuat sejak awal 2025.
Indeks di atas 100 menunjukkan bahwa mayoritas konsumen memandang kondisi ekonomi saat ini dan prospek ke depan dengan pandangan positif, mencerminkan harapan perbaikan dalam pendapatan, lapangan kerja, dan daya beli dalam beberapa bulan mendatang.
“Meningkatnya keyakinan konsumen pada Januari ditopang oleh peningkatan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang masing-masing tercatat sebesar 115,1 dan 138,8. Lebih tinggi dibandingkan dengan indeks bulan sebelumnya sebesar 111,4 dan 135,6,” sebut laporan BI.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso, memaparkan bahwa berdasarkan pengeluaran, kenaikan IKK Januari terjadi di hampir semua kelompok yaitu >Rp5 juta (dari 128,3 menjadi 134,3); Rp3,1—Rp4 juta (dari 118,3 menjadi 120,7); Rp2,1—Rp3 juta (dari 117,9 menjadi 121,2); dan Rp1—Rp2 juta (dari 113,7 menjadi 118,8). Sementara kelompok pengeluaran Rp4,1—Rp5 juta menurun dari 129,2 menjadi 124,2.
Berdasarkan usia, IKK meningkat di hampir seluruh kelompok dengan kenaikan tertinggi yaitu 20—30 tahun (dari 127,9 ke 134,2). Secara spasial, IKK mengalami peningkatan di mayoritas kota yang disurvei, terutama di Semarang, Palembang, dan Padang.
Lebih lanjut, Denny menjelaskan bahwa perkembangan keyakinan konsumen pada Desember 2025 dipengaruhi oleh penurunan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK).
IKE tercatat sebesar 115,1 atau menurun tipis dibandingkan dengan indeks bulan sebelumnya sebesar 111,4. Begitu juga IEK yang berada di level 138,8, turun dibandingkan dengan indeks bulan sebelumnya sebesar 135,6.
Jika dirinci maka kenaikan IKE terjadi akibat semua komponennya yaitu indeks penghasilan saat ini (dari 120,2 menjadi 123,7), indeks ketersediaan lapangan kerja indeks (dari 106,5 menjadi 109,9), indeks pembelian barang tahan lama (dari 107,4 menjadi 111,8) menguat.
Sementara itu, perkembangan IEK dipengaruhi oleh kenaikan indeks ekspektasi kegiatan usaha (dari 130,8 menjadi 135,4) dan indeks ekspektasi penghasilan (dari 140,8 menjadi 146). Sementara itu. Indeks ekspektasi ketersediaan lapangan kerja stagnan (tidak berubah di level 135,1).
Berdasarkan kondisi keuangannya, rata-rata proporsi pendapatan konsumen untuk konsumsi (dari 73,3% menjadi 72,3%) menurun. Sebaliknya, proporsi pembayaran cicilan/utang (dari 10,8% menjadi 11,2%) dan proporsi pendapatan konsumen yang disimpan (dari 14,9% menjadi 16,5%) tercatat meningkat.




